From Our Gallery
Tunas Industrial Estate
  • Beranda
  • Proyek
    • Tunas Batam Center Industrial
    • Tunas Bitung Industrial Estate
    • Tunas Kabil Industrial Estate
    • Tunas Daan Mogot Bizpark
    • Tunas Daan Mogot Warehouse
    • Tunas Prima Industrial Estate
  • Blog
    • Berita
    • Artikel
  • Lokasi Kami
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Login
  • Bahasa IndonesiaBahasa Indonesia
    • EnglishEnglish
    • 中文 (中国)中文 (中国)
Tunas Industrial Estate
  • Beranda
  • Proyek
    • Tunas Batam Center Industrial
    • Tunas Bitung Industrial Estate
    • Tunas Kabil Industrial Estate
    • Tunas Daan Mogot Bizpark
    • Tunas Daan Mogot Warehouse
    • Tunas Prima Industrial Estate
  • Blog
    • Berita
    • Artikel
  • Lokasi Kami
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Login
  • Bahasa IndonesiaBahasa Indonesia
    • EnglishEnglish
    • 中文 (中国)中文 (中国)

23 Jan

By: administrator foreign investment, hilirisasi, investasi di batam, kawasan industri tunas prima Comments: Tidak ada komentar

Indonesia 2026: Pergeseran Agresif Menuju Hilirisasi

Arah Industri Indonesia 2026

Indonesia telah memasuki fase industri yang baru. Siklus regulasi 2024–2025 menandai pergeseran yang jelas dari sekadar arah kebijakan menuju penegakan yang nyata dan terukur. Perizinan kini lebih selektif, insentif semakin terarah, dan kepatuhan menjadi prasyarat utama. Pemerintah secara sadar menaikkan standar masuk untuk mempercepat transformasi dari ekonomi berbasis ekstraksi dan manufaktur bernilai rendah menuju industri bernilai tinggi, berbasis teknologi, dan berorientasi ekspor.

Bagi investor, pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia menarik.
Pertanyaannya adalah di mana eksekusi paling dapat diandalkan.

Strategi nikel Indonesia kini secara tegas memprioritaskan hilirisasi. Izin pertambangan dikaitkan langsung dengan aktivitas pengolahan, sementara kebijakan nasional mendorong pengembangan material baterai, prekursor, dan rantai pasok kendaraan listrik (EV), bukan ekspor bahan mentah.

Hal ini menempatkan Indonesia sebagai pusat global EV dan baterai, bukan sekadar pemasok komoditas. Investor yang berfokus pada pengolahan terintegrasi, teknologi HPAL, dan manufaktur baterai berada pada posisi struktural yang lebih unggul.


Energi Bersih Terbarukan: Net Zero Menjadi Variabel Biaya

Dengan pembatasan batu bara dan penerapan harga karbon, energi kini menjadi faktor operasional dan finansial. Pelaku industri membutuhkan pasokan energi terbarukan yang tersertifikasi untuk menjaga akses ekspor dan daya saing biaya.

Transisi energi Indonesia telah memasuki fase eksekusi dan monetisasi, mendorong permintaan terhadap energi terbarukan captive, penyimpanan energi, dan kawasan industri rendah karbon.

Indonesia tidak lagi bersaing sebagai basis manufaktur berbiaya rendah. Perizinan dan insentif kini memprioritaskan:

  • Manufaktur berteknologi tinggi

  • Otomatisasi dan Industry 4.0

  • Produksi rendah karbon dan siap ekspor

Arah ini mencerminkan realignment FDI menuju presisi dan kapabilitas, bukan sekadar keunggulan biaya tenaga kerja.


Infrastruktur Digital: Regulasi Mendorong Aset Fisik

Penegakan perlindungan data dan penetapan sektor prioritas mendorong investasi nyata pada data center, infrastruktur pintar, dan fasilitas digital yang patuh regulasi. Pertumbuhan digital di Indonesia kini membutuhkan aset fisik yang aman energi dan patuh hukum.


Batam Menjadi Platform Industri Strategis

Batam menggabungkan keselarasan regulasi, efisiensi logistik, dan akses regional. Batam adalah lokasi di mana pergeseran industri Indonesia sudah berjalan secara operasional, dengan keunggulan:

  • Kedekatan dengan Singapura dan jalur perdagangan internasional

  • Koridor industri dan pelabuhan yang matang

  • Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) untuk industri bernilai tinggi

  • Potensi energi terbarukan dan konektivitas lintas negara

Batam berfungsi sebagai:

  • Hub hilirisasi untuk industri EV dan baterai

  • Gerbang energi hijau untuk pasar regional

  • Basis manufaktur berteknologi tinggi

  • Lokasi infrastruktur digital yang patuh regulasi nasional


Tunas Prima Industrial Estate: Dibangun untuk Eksekusi

Dalam lingkungan yang menekankan penegakan, kawasan industri harus memberikan lebih dari sekadar lahan.

Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) adalah kawasan industri hijau seluas 100 hektare, dikembangkan oleh Tunas Group dan berlokasi di Kabil, salah satu kawasan industri paling aktif di Batam. TPIE dirancang untuk mendukung manufaktur berorientasi ekspor dan berbasis teknologi dengan kepastian operasional jangka panjang.

Akses Strategis

  • Bandara Internasional Hang Nadim: 5 menit

  • Ferry Terminal Nongsapura: 10 menit

  • Ferry Terminal Batam Center: 15 menit

  • Pelabuhan Batu Ampar: 30 menit

Infrastruktur Operasional

  • Pasokan energi terbarukan 100% bekerja sama dengan PLN

  • Sistem pengelolaan air yang aman dengan sumber alternatif

  • Infrastruktur bersertifikasi Green Mark dan desain kawasan pintar

  • Jalan kawasan lebar dan utilitas stabil

  • Sistem keselamatan kebakaran terintegrasi dan layanan listrik premium


One Stop Business Solution for Manufacturing

TPIE menyediakan solusi industri terpadu:

  • Studi kelayakan dan perencanaan lokasi

  • Desain dan konstruksi fasilitas

  • Pengembangan built-to-suit

  • Standard Factory Buildings (SFB) dari 640 m² hingga 3.220 m²+

  • Penjualan lahan industri dan pengembangan khusus

Beragam tipe bangunan mendukung skala manufaktur, dari presisi hingga industri berskala besar. TPIE telah menjadi lokasi bagi perusahaan nasional dan internasional di sektor hilir dan teknologi, termasuk:

  • PT Solder Tin Andalan Indonesia
  • Haitai Solar
  • PT Luxsan Precision Indonesia (Luxshare ICT)
  • CLOU Midea Electronic
  • PT STGM Industri Manufaktur (Zhengte)
  • Professional Testing Services (PTS)
  • PT CEME Fluid Solutions
  • dan lainnya…

Pergeseran agresif Indonesia sudah berlangsung. Keunggulan akan diraih oleh investor yang memilih lokasi dan mitra yang tepat sejak awal. Batam menawarkan konektivitas, kepatuhan, dan akses regional. Tunas Prima Industrial Estate menghadirkan platform praktis dan terintegrasi untuk eksekusi industri. Bagi perusahaan yang berfokus pada operasi jangka panjang, kepastian regulasi, dan daya saing ekspor, TPIE siap mendukung fase pertumbuhan industri Indonesia berikutnya.

19 Jan

By: administrator foreign investment, hilirisasi, industri nikel, investasi di batam, kawasan industri tunas prima, sustainability, tunas prima industrial estate Comments: Tidak ada komentar

Prospek Industri Nikel Indonesia 2026

Dari Kendali Pasar ke Hilirisasi Nikel

Memasuki 2026, industri nikel Indonesia berada pada titik balik yang penting. Strategi berbasis skala dan volume yang selama ini dijalankan kini bergerak menuju pendekatan yang lebih matang—menekankan disiplin produksi, integrasi rantai nilai, dan penciptaan nilai jangka panjang. Sebagai produsen nikel terbesar di dunia, Indonesia tidak lagi sekadar mengikuti dinamika permintaan global, tetapi semakin mengarahkan arah pasar itu sendiri. Perubahan ini didorong oleh penyesuaian kebijakan yang tegas: mengendalikan pasokan di hulu sekaligus mempercepat penguatan nilai di hilir, sehingga Indonesia menempati posisi strategis dalam rantai pasok global baterai dan energi bersih.

1. Menata Ulang Pasokan: Dari Mengejar Volume ke Mengendalikan Pasar

Nickel Industry Outlook Indonesia 2026
Nickel Industry Outlook Indonesia 2026

Pada 2026, Indonesia berencana menurunkan produksi bijih nikel mentah dari sekitar 379 juta ton pada 2025 menjadi kurang lebih 250 juta ton. Langkah ini diambil untuk mengatasi kelebihan pasokan global, menjaga stabilitas harga, dan menata ulang struktur industri. Dengan porsi produksi global yang sangat dominan, bahkan penerapan kebijakan secara bertahap pun sudah cukup untuk memengaruhi pasar internasional. Di sinilah pergeseran terjadi—Indonesia bergerak dari price taker menjadi market shaper.

2. Disiplin Harga di Tengah Dinamika Pasar

Nickel Industry Outlook Indonesia 2026
Nickel Industry Outlook Indonesia 2026

Pengendalian produksi diharapkan mampu menopang harga nikel setelah periode tekanan yang panjang. Meski demikian, tahun 2026 tetap akan diwarnai dinamika, seiring penegakan regulasi, tingkat kepatuhan pelaku usaha, serta perkembangan permintaan global. Dalam situasi seperti ini, daya saing tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar volume yang dihasilkan, melainkan oleh efisiensi biaya, kedalaman integrasi, dan posisi strategis dalam rantai nilai.

3. Hilirisasi sebagai Arah Utama

Nickel Industry Outlook Indonesia 2026
Nickel Industry Outlook Indonesia 2026

Lebih dari sekadar mengatur pasokan, fokus utama Indonesia kini adalah menangkap nilai tambah. Kebijakan nasional terus mendorong pengembangan produk nikel bernilai tinggi untuk industri baterai, antara lain:

  • Mixed Hydroxide Precipitate (MHP)
  • Nikel sulfat
  • Material prekursor katoda

Meskipun penggunaan baterai LFP semakin meluas, teknologi berbasis nikel tetap menjadi tulang punggung untuk kendaraan listrik jarak jauh dan sistem penyimpanan energi. Pertumbuhan permintaan EV hingga 2030 menjadi fondasi kuat bagi kebutuhan nikel jangka panjang. Artinya, Indonesia tidak lagi hanya mengekspor bahan mentah—Indonesia kini menjadi bagian dari ekosistem global EV, baterai, dan energi bersih.


4. Pengetatan Regulasi Mengubah Peta Persaingan

Nickel Industry Outlook Indonesia 2026
Nickel Industry Outlook Indonesia 2026

Pengetatan persetujuan RKAB, penguatan standar lingkungan—terutama untuk fasilitas HPAL—serta peningkatan standar kepatuhan mulai mengubah struktur biaya industri. Pelaku dengan efisiensi rendah menghadapi tekanan, sementara perusahaan yang terintegrasi dan patuh regulasi justru memperoleh keunggulan yang lebih berkelanjutan. Kondisi ini membuat arus investasi semakin selektif, mengarah ke lokasi yang mampu menekan risiko regulasi sekaligus menjaga efisiensi ekspor.

5. Batam sebagai Pusat Hilirisasi

Seiring semakin terkendalinya pasokan di hulu, fleksibilitas dan efisiensi di sisi hilir menjadi kunci. Dalam konteks ini, Batam muncul sebagai simpul strategis hilirisasi, tempat pengolahan, manufaktur komponen, dan aktivitas ekspor saling terhubung. Keunggulan Batam antara lain:

  • Status Free Trade Zone (FTZ) dengan bea masuk 0%
  • Kedekatan dengan ekosistem logistik, keuangan, dan sertifikasi Singapura
  • Infrastruktur berorientasi ekspor dengan proses regulasi yang relatif efisien

Posisi ini diperkuat oleh keberadaan manufaktur berorientasi ekspor di sektor elektronik, energi, presisi, dan jasa industri—menunjukkan kesiapan Batam untuk menopang industri hilir bernilai tinggi.

6. Tunas Prima: Dari Strategi ke Kesiapan Industri

Di dalam ekosistem Batam, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) berperan sebagai platform yang menerjemahkan arah kebijakan nasional ke dalam kesiapan industri yang nyata.

Tunas Prima dirancang untuk mendukung manufaktur berteknologi tinggi dan industri energi melalui:

  • Kawasan industri yang terencana dengan ketersediaan lahan yang dapat dikembangkan secara bertahap
  • Infrastruktur yang mendukung operasional berstandar tinggi dan berorientasi ekspor
  • Penerapan prinsip green industry dan keberlanjutan

Dengan keberadaan manufaktur internasional yang telah beroperasi—termasuk fasilitas Battery Energy Storage System (BESS) pertama di Indonesia—Tunas Prima menunjukkan kesiapan operasional sebagai ekosistem industri yang mampu menampung dan mengembangkan industri hilir, termasuk investasi terkait nikel.

Penutup

Memasuki 2026, arah industri nikel Indonesia tidak lagi diukur dari besarnya produksi, melainkan dari kemampuan menyelesaikan nilai di hilir. Seiring pasokan hulu yang semakin terkelola, keunggulan kini ditentukan oleh kualitas eksekusi dan kedalaman integrasi industri. Batam menjadi simpul nilai berorientasi ekspor, dan Tunas Prima menghadirkan kesiapan industri untuk menghubungkan kebijakan nasional dengan kebutuhan rantai pasok global.

08 Des

By: administrator foreign investment, green energy, industri indonesia, investasi di batam, kawasan industri tunas prima, southeast asia summit, sustainability, tunas prima industrial estate Comments: Tidak ada komentar

Partisipasi Tunas Industrial di Southeast Asia & North Africa Overseas Summit 2025

Shanghai — 6 Desember 2025. Tunas Industrial kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong ekspansi industri global dengan berpartisipasi pada Southeast Asia & North Africa Overseas Summit 2025, yang berlangsung pada 5–6 Desember di Primus Hotel Shanghai Hongqiao. Acara yang diselenggarakan oleh Shan Hai Map ini dihadiri lebih dari 4.500 perusahaan yang tengah mengeksplorasi ekspansi ke destinasi manufaktur dengan pertumbuhan tercepat di dunia.

Momentum Kuat Indonesia dalam Pergeseran Rantai Pasok Global

Summit ini menyoroti perubahan besar dalam rantai pasok global yang semakin mengarahkan investasi ke Asia Tenggara dan Afrika Utara sebagai pusat manufaktur baru. Indonesia tampil menonjol berkat stabilitas ekonomi, ketersediaan tenaga kerja kompetitif, ekosistem industri yang berkembang, serta infrastruktur yang terus meningkat.

Para pakar juga menyoroti sektor-sektor yang tengah tumbuh pesat—mulai dari energi hijau dan baterai, komponen kendaraan listrik, perangkat medis, pusat data, elektronik pintar, hingga industri kimia. Seluruh sektor ini memiliki keselarasan kuat dengan kapabilitas industri Tiongkok dan membuka peluang kolaborasi yang luas.

Analisis pemilihan lokasi investasi menunjukkan Indonesia, khususnya Batam, sebagai pilihan utama bagi perusahaan yang mencari basis operasi yang efisien, mudah dikembangkan, dan strategis. Kedekatan geografis dengan Singapura serta dukungan pemerintah menjadi nilai tambah besar bagi perusahaan Tiongkok yang ingin memperluas pasar ke Asia Tenggara.

Diskusi forum juga menegaskan percepatan Indonesia menuju manufaktur bernilai tambah tinggi, terutama di ekosistem EV, energi terbarukan, elektronik, perangkat medis, dan infrastruktur digital. Kejelasan regulasi, peningkatan konektivitas industri, dan peluang infrastruktur berbasis KPBU semakin memperkuat optimisme investor terhadap Indonesia.

Dengan pertumbuhan ekonomi digital dan ritel yang terus meningkat, Indonesia semakin diakui sebagai salah satu pasar paling dinamis dan siap tumbuh di Asia.

Tunas Prima — Gerbang Strategis Investor Tiongkok

Sepanjang acara, Tunas Industrial membuka booth pameran yang memberikan wawasan langsung mengenai potensi pasar Batam dan peluang ekspansi ke Indonesia. Tim mempresentasikan Tunas Prima Industrial Estate, yang mengedepankan ekosistem industri hijau terintegrasi, fasilitas yang dapat dikembangkan secara fleksibel, serta infrastruktur modern untuk mendukung investasi asing.

Para pengunjung mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang posisi strategis Batam dalam Segitiga Emas Singapura–Malaysia–Batam, yang menawarkan konektivitas terbaik untuk manufaktur dan distribusi regional. Dengan insentif pemerintah serta utilitas yang andal, Tunas Prima menjadi katalis bagi manufaktur maju dan mitra tepercaya bagi perusahaan Tiongkok yang memasuki pasar Asia Tenggara.

02 Des

By: administrator energi terbarukan, green energy, industri hijau, industri indonesia, investasi di batam, kawasan industri tunas prima, zero net carbon Comments: Tidak ada komentar

Prospek Bisnis Industri Hijau Indonesia 2026

Dari Kekuatan SDA Menuju Pusat Industri Hijau Asia

Memasuki tahun 2026, Indonesia berada pada titik transformasi penting. Setelah serangkaian reformasi di tahun 2025, ekspansi infrastruktur, serta meningkatnya arus investasi hijau, Indonesia sedang bergerak dari ekonomi berbasis sumber daya menuju pusat manufaktur berkelanjutan dan energi bersih di Asia.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan sumber daya strategis terbesar di dunia, menjadi pilar penting bagi industri energi bersih global:

  • Nikel – komponen utama baterai kendaraan listrik
  • Bauksit & Timah – bahan penting industri elektronik dan semikonduktor
  • Kelapa Sawit – menopang biofuel dan rantai pasok pangan global

Kekuatan SDA ini menjadi landasan Indonesia untuk beralih dari komoditas mentah menuju produksi bernilai tambah tinggi.

Hilirisasi: Kunci Transformasi Industri Nasional

Agenda hilirisasi menjadi strategi utama pemerintah untuk meningkatkan nilai ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing industri. Kebijakan ini diperkuat oleh Omnibus Law dan sistem perizinan digital OSS RBA, yang mempermudah proses pendirian pabrik dan menarik investasi pada sektor manufaktur terintegrasi seperti baterai EV, komponen surya, dan bahan kimia industri. Untuk mempercepat modernisasi kapasitas industri, pemerintah mempermudah impor bahan baku dan mesin bagi sektor prioritas:

  • Penurunan tarif tertentu
  • Penyederhanaan dokumen impor
  • Fasilitasi teknologi dan mesin berstandar internasional

Langkah ini memastikan industri Indonesia tetap kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok global.

Pertumbuhan Pesat Logistik, Elektronik & Sektor Maritim

Pertumbuhan e-commerce, integrasi manufaktur regional, dan digitalisasi memicu lonjakan kebutuhan logistik. Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia tengah memasuki fase boom baru di sektor maritim & logistik, ditandai oleh:

  • Pengembangan pelabuhan dan kawasan berikat
  • Smart warehouse
  • Pusat manufaktur elektronik yang dekat dengan jalur pelayaran internasional

Permintaan dari ASEAN dan Asia Timur turut memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi elektronik yang efisien dan strategis.

Batam: Gerbang Perdagangan dan Inovasi Regional

Dengan lokasi hanya 20 km dari Singapura, Batam terus berkembang menjadi hub inovasi yang menghubungkan manufaktur Indonesia dengan jaringan supply chain Asia Timur. Salah satu kawasan unggulannya, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE), menghadirkan infrastruktur hijau bersertifikasi, utilitas terintegrasi, dan fasilitas siap bangun — menjadikannya pilihan ideal untuk manufaktur ekspor dan logistik.

Tren Energi 2025–2026: Menggerakkan Babak Baru Industri Indonesia

Dua tahun ke depan, sektor energi akan menjadi penggerak utama transformasi industri:

  • Dominasi Energi Terbarukan – PLTS dan tenaga angin makin kompetitif
  • Teknologi Penyimpanan Energi – inovasi baterai, hidrogen, dan sistem grid
  • Transportasi Elektrifikasi – 1 dari 4 kendaraan baru adalah EV
  • Efisiensi Energi Industri – smart energy management menekan emisi dan biaya
  • Hidrogen Hijau & CCS – peluang investasi generasi berikutnya
  • AI & Digitalisasi Energi – meningkatkan prediksi dan efisiensi distribusi
  • Microgrid & Rooftop Solar – memperkuat ketahanan energi lokal
  • Modernisasi Infrastruktur Listrik – smart metering & grid upgrade
  • Pembiayaan Hijau – green bond dan insentif pajak dorong pertumbuhan ESG

Memasuki 2026, transformasi industri dan transisi energi Indonesia semakin dipercepat. Dengan fondasi regulasi yang kuat, kebijakan yang stabil, dan kolaborasi regional yang kian erat, Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam ekonomi hijau Asia.

Bagi investor global, Indonesia bukan sekadar pasar berkembang, tetapi gerbang strategis menuju manufaktur dan energi berkelanjutan. Peran ini terlihat paling jelas di Batam, yang berada di jalur perdagangan internasional dan memiliki infrastruktur kelas dunia untuk operasi regional.

Di tengah ekosistem tersebut, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) hadir sebagai platform industri generasi baru— menggabungkan infrastruktur hijau, konektivitas logistik yang unggul, dan fasilitas siap bangun berbasis ESG. Dengan insentif investasi, kemudahan impor, hingga peluang masuk ke rantai pasok energi terbarukan dan teknologi tinggi, TPIE membantu investor mengubah peluang menjadi aksi — dan pertumbuhan menjadi keberlanjutan.

02 Des

By: administrator foreign investment, green energy, industri hijau, industri indonesia, investasi di batam Comments: Tidak ada komentar

Regulasi Industri Hijau dan Kemudahan Investasi di Indonesia

Pasca transisi menuju ekonomi hijau, Indonesia kini memperkuat fondasi hukumnya untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Berbagai reformasi strategis dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, insentif fiskal, dan jaminan kepastian hukum — menjadikan Indonesia destinasi utama bagi investasi manufaktur, energi, dan teknologi.

1. Omnibus Law & Kemudahan Perizinan Digital via OSS RBA

Melalui Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) dan sistem Online Single Submission – Risk-Based Approach (OSS RBA), pemerintah menghadirkan model perizinan yang cepat, transparan, dan sepenuhnya digital.
Investor kini dapat memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin operasional dalam hitungan hari, dengan penilaian berbasis tingkat risiko usaha. Kebijakan ini mempersingkat birokrasi dan memberikan kepastian bagi perusahaan asing yang ingin segera memulai operasi di Indonesia.

2. Insentif Fiskal: Tax Holiday & Tax Allowance

Untuk sektor-sektor prioritas seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, semikonduktor, dan farmasi, pemerintah menawarkan tax holiday hingga 20 tahun serta tax allowance berupa pengurangan penghasilan kena pajak hingga 60% dari total investasi. Insentif ini bertujuan menarik perusahaan global yang ingin menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur dan ekspor di Asia Tenggara.

3. Kepastian Hukum atas Kepemilikan Lahan Industri Asing

Kepastian hukum menjadi aspek kunci bagi investor asing. Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, investor asing dijamin mendapatkan perlakuan yang sama dengan investor domestik, termasuk perlindungan hukum terhadap hak kepemilikan dan kegiatan usaha.

Investor asing tidak dapat memiliki tanah berstatus hak milik secara langsung, namun memiliki opsi legal melalui mekanisme PT Penanaman Modal Asing (PT PMA) — badan hukum Indonesia yang memungkinkan kepemilikan lahan industri melalui:

  • Hak Guna Bangunan (HGB) atau Hak Pakai untuk keperluan industri dan komersial.
  • Jangka waktu hingga 80 tahun, termasuk perpanjangan.
  • Perlindungan hukum penuh sesuai Pasal 6 dan 7 UU No. 25/2007 terhadap investor asing.

4. Insentif untuk Green & High-Tech Industries

Sejalan dengan arah kebijakan Net Zero Emission 2060, pemerintah memberikan prioritas tinggi bagi investasi di sektor energi hijau dan hi-tech. Melalui berbagai kebijakan seperti Green Investment Facility dan dukungan pembiayaan berstandar ESG, investor di bidang panel surya, baterai lithium, hydrogen hub, hingga digital industry berkelanjutan memperoleh kemudahan akses pendanaan dan fiskal.

Kawasan seperti Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) di Batam telah menyesuaikan tata kelola dan infrastrukturnya untuk mendukung target tersebut — dari sistem pengelolaan limbah industri terintegrasi hingga sertifikasi Green Mark Infrastructure. Hal ini menjadikan TPIE salah satu lokasi unggulan untuk ekspansi industri berkelanjutan dan teknologi tinggi di Indonesia.

5. Kolaborasi Bilateral Indonesia–Tiongkok: Manufaktur & Logistik

Kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok terus meningkat, terutama di sektor manufaktur, energi, dan infrastruktur logistik. Melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan berbagai proyek joint venture, investor Tiongkok kini memanfaatkan Batam, Medan, Jakarta, Surabaya, Morowali, dan Kendal sebagai pusat produksi strategis di Asia Tenggara. Dengan jarak hanya 20 km dari Singapura dan berada di jalur pelayaran internasional, Batam menempati posisi strategis dalam koridor ekonomi maritim regional. Tunas Prima Industrial Estate siap menjadi jembatan baru kolaborasi kedua negara — menghubungkan kekuatan teknologi Tiongkok dengan potensi pasar dan sumber daya Indonesia.

Menuju Ekosistem Investasi yang Lebih Transparan dan Berkelanjutan

Dengan reformasi regulasi, insentif fiskal, dan infrastruktur yang semakin kuat, Indonesia memasuki era investasi baru yang pro-bisnis dan berorientasi keberlanjutan. Sinergi antara kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan komitmen energi hijau menempatkan Indonesia bukan sekadar pasar potensial, melainkan mitra strategis bagi investor global di Asia Tenggara.

01 Des

By: administrator energi terbarukan, green energy, industri hijau, industri indonesia, investasi di batam, sustainability Comments: Tidak ada komentar

Tren Renewable Energy Dorong Gelombang Investasi Baru di Indonesia

Transisi tahun 2025 menuju 2026 menjadi titik balik industri energi global. Dunia tengah bergerak cepat menuju masa depan rendah karbon, di mana energi terbarukan, teknologi baterai, dan kendaraan listrik menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan kebijakan transisi energi yang semakin matang, kini muncul sebagai pemain kunci dalam peta energi hijau Asia — dan membuka peluang besar bagi investasi, terutama dari Tiongkok.

Transformasi Energi Global: Dari Krisis Iklim ke Revolusi Hijau

Tekanan krisis iklim, kebijakan net zero, dan inovasi teknologi mendorong perubahan arah pasar energi dunia. Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat, lonjakan permintaan listrik dunia pada 2025 hampir sepenuhnya dipenuhi oleh energi rendah emisi, sehingga mencegah tambahan sekitar 2,6 miliar ton CO₂ per tahun. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan energi bersih, digitalisasi, dan regulasi hijau kini berada di garis depan kompetisi industri global.

Potensi Indonesia Menuju Ekonomi Hijau Bernilai Rp 8.824 Triliun

Indonesia memiliki visi besar menuju Net Zero Emission 2060, dengan strategi nasional yang tercantum dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN 2024). Dari total proyeksi 444 GW kapasitas pembangkit pada 2060, sebesar 73,6% atau 326 GW ditargetkan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Potensi ini ditopang oleh kekayaan sumber daya:

  • Matahari: potensi PLTS hingga 266 GW
  • Angin: potensi PLTB hingga 73,5 GW
  • Penyimpanan energi & baterai: 58 GW kapasitas energi cadangan
  • Geotermal: terbesar kedua di dunia
  • Bioetanol & hidrogen hijau: mendukung sektor industri dan transportasi

Dengan nilai ekonomi yang diproyeksikan mencapai Rp8.824 triliun pada 2060, Indonesia menjadi ladang investasi strategis untuk sektor energi bersih dan manufaktur berkelanjutan.

Dukungan Pemerintah Lewat Regulasi Ramah Investasi

Pemerintah memperkuat komitmen EBT melalui berbagai kebijakan strategis. Langkah-langkah ini menegaskan arah Indonesia sebagai pusat manufaktur hijau Asia Tenggara:

  • Feed-in Tariff untuk memastikan harga listrik terbarukan tetap kompetitif.
  • Skema Power Wheeling yang memungkinkan penjualan listrik hijau antar pihak.
  • Insentif fiskal & tax holiday bagi manufaktur energi terbarukan dan EV
  • Subsidi EV, pembebasan pajak, serta dukungan pembangunan pabrik baterai, charging station, hingga industri daur ulang baterai.
  • Dukungan perizinan cepat melalui sistem OSS RBA

Batam Sebagai Hub Strategis Industri Hijau Indonesia

Dalam konteks regional, Batam menempati posisi strategis di jalur perdagangan global, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sebagai gerbang pasar ASEAN. Kota industri terdepan Indonesia ini tengah berkembang menjadi green industrial hub dengan dukungan infrastruktur handal dan kebijakan fiskal kompetitif.

Sebagai salah satu kawasan industri unggulan di Batam, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) hadir sebagai mitra pilihan bagi investor yang ingin berekspansi ke bisnis renewable energy dan green manufacturing.

Keunggulan Tunas Prima Industrial Estate

  • Infrastruktur handal bersertifikasi Greenmark
  • Sistem pengelolaan air & limbah industri terintegrasi berbasis ESG
  • Akses dekat dan mudah ke bandara internasional, ferry terminal rute Batam-Singapore-Malaysia, dan pelabuhan barang/kargo
  • Ketersediaan lahan industri dilengkapi fasilitas dan utilitas modern

Peluang Kolaborasi Indonesia–Tiongkok: Industri Energi Hijau Terintegrasi

Sebagai pemimpin global dalam teknologi baterai dan kendaraan listrik, Tiongkok memiliki peluang strategis untuk memperluas jaringan produksinya di Indonesia—pasar dengan potensi energi terbarukan yang besar dan komitmen kuat terhadap transisi hijau. Melalui kolaborasi investasi dan transfer teknologi, kedua negara dapat membangun rantai pasok regional yang terintegrasi, mencakup produksi baterai lithium, manufaktur EV, hingga sistem penyimpanan energi pintar.

Di tengah arus transisi energi nasional, Tunas Prima Industrial Estate menawarkan pintu masuk ideal bagi investor Tiongkok untuk menjangkau pasar ASEAN lewat pengembangan industri rendah karbon berbasis ESG, menggabungkan keberlanjutan dengan profitabilitas.

29 Nov

By: administrator green energy, industri hijau, investasi di batam, kawasan industri tunas prima, news, sustainability, tunas prima industrial estate Comments: Tidak ada komentar

Kunjungan Peserta TKMPN 2025 ke Kawasan Industri Tunas Prima

Batam, 28 November 2025 – Kawasan Industri Tunas Prima hari ini menerima kunjungan resmi peserta Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) XXIX 2025, sebuah rangkaian dari ajang tahunan nasional yang menjadi wadah bagi perusahaan dan organisasi di Indonesia dalam memamerkan inovasi, peningkatan mutu, dan produktivitas.

TKMPN, yang telah berlangsung sejak 24–28 November 2025 di Batam, kembali mempercayakan kota ini sebagai tuan rumah untuk keempat kalinya. Tahun ini, acara hadir dengan tema “Membangun Daya Saing Bangsa Melalui Inovasi yang Produktif dan Berkelanjutan.” Peserta berasal dari berbagai sektor—mulai dari perusahaan multinasional, BUMN, swasta, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, layanan kesehatan, hingga organisasi nirlaba.

Sebagai bagian dari rangkaian kunjungan industri, Kawasan Industri Tunas Prima dipilih sebagai salah satu destinasi strategis bagi peserta TKMPN untuk melihat langsung perkembangan ekosistem industri Kota Batam dan potensi kawasan ini dalam mendukung agenda nasional peningkatan produktivitas. Serta inovasi dalam penerapan konsep sustainability dalam pengembangan kawasan industri. Total 28 peserta menghadiri sesi diskusi dan presentasi on-site.

Inovasi & Tata Kelola Kawasan Industri Tunas Prima

Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD), Chrispin Andereas, Head of Business Development Tunas Industrial, memaparkan berbagai inisiatif strategis kawasan serta menjawab sejumlah pertanyaan terkait operasional, sustainability, dan kesiapan Tunas Prima menghadapi tantangan industri masa depan.

1. Pengelolaan Sampah

Peserta menyoroti isu pengelolaan sampah di Batam, mengingat produksi sampah kota telah mencapai 1.300 ton per hari (DLH Batam, 2023), sementara kapasitas TPA diproyeksikan hanya cukup hingga 2030. Untuk menjawab tantangan tersebut:

  • Tunas Prima menjadi kawasan industri di Batam yang menginisiasi Industrial Waste Management terpusat.
  • Program ini dibangun atas empat pilar: Inovasi teknologi, pemilahan dari sumbernya, sistem terpusat, dan konversi sampah menjadi nilai tambah.
  • Pengelolaan limbah mengikuti pendekatan organik–anorganik–ekonomis, dimana 50% limbah didaur ulang dengan Materials Recovery Facility (MRF).

Inisiatif ini sejalan dengan grand design Pemerintah Kota Batam dalam pengelolaan sampah yang lebih ketat, modern, dan berkelanjutan.

2. Manajemen Air 

Untuk menjaga keberlanjutan pasokan air:

  • Tunas Prima bekerja sama dengan SPAM Batam sebagai penyedia utama air bersih.
  • Penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle dilakukan melalui:
    • Penggunaan sanitary berstandar WELS 3 ticks
    • Pembangunan Rainwater Harvesting Pond sebagai sumber air alternatif
    • Pengelolaan air limbah melalui Wastewater Treatment Plant (WWTP) sebelum dilepas kembali ke lingkungan

3. Implementasi ISO

Tunas Prima saat ini berada dalam tahap audit implementasi ISO 9001 sebagai komitmen peningkatan mutu operasional kawasan.

4. Mobilitas & Transportasi Internal

Tunas Prima dirancang sebagai kawasan ramah pejalan kaki dengan jalur aman dan nyaman dalam radius 1 km dari main entrance menuju kantor atau warehouse di dalam kawasan. Ke depannya, pick-up point untuk taksi dan ojek online akan tersedia di halte depan kawasan. Pembatasan kendaraan diterapkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

5. Inovasi & Green Infrastructure

Tunas Prima menjadi kawasan industri hijau pertama di Batam yang memperoleh Green Mark Provisional Certificate from BCA International, yang mendukung visi kawasan industri bebas karbon melalui:

  • IoT-based Command Center untuk monitoring lingkungan
  • Interconnected walkway & fasilitas sepeda
  • Penggunaan tanaman drought-resistant
  • Efisiensi energi dan pemanfaatan sumber daya
  • Desain lanskap ramah lingkungan dan area ekspansi masa depan

Selain itu, keunggulan strategis Batam di Golden Triangle Singapura–Malaysia memperkuat posisi Tunas Prima sebagai hub industri global dan destinasi unggulan untuk supply chain modern.

Penutup

Kunjungan peserta TKMPN 2025 ini menegaskan peran Kawasan Industri Tunas Prima sebagai salah satu kawasan industri yang progresif, adaptif, dan berkomitmen pada inovasi berkelanjutan. Melalui tata kelola modern dan infrastruktur hijau, Tunas Prima terus mendukung agenda nasional peningkatan kualitas dan produktivitas untuk mendorong daya saing Indonesia.

20 Nov

By: administrator foreign investment, indonesia regulations, investasi di batam Comments: Tidak ada komentar

Panduan Registrasi Bisnis Indonesia untuk Investor Asing (Part 2)

Memilih Bentuk Badan Usaha yang Tepat di Indonesia

Menentukan bentuk badan usaha merupakan langkah strategis paling penting bagi investor asing yang ingin masuk ke Indonesia. Pilihan ini akan menentukan struktur kepemilikan, kewajiban pajak, kelayakan perizinan, hingga potensi pertumbuhan jangka panjang. Berdasarkan UU No. 40/2007 dan Omnibus Law (UU No. 11/2020), ketentuan terkait kepemilikan asing, modal, dan klasifikasi usaha harus diikuti secara ketat. Kesalahan dalam memilih badan usaha dapat berakibat pada penolakan izin, keterlambatan proses, hingga sanksi finansial. BKPM mencatat bahwa pada 2023, hampir 15% pemohon asing mengalami kendala karena memilih jenis entitas yang salah. Dengan kata lain, keputusan ini bukan sekadar formalitas—melainkan perlindungan terhadap investasi Anda.

PT PMA: Struktur Utama bagi Investor Asing

PT PMA (Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing) merupakan bentuk perusahaan standar untuk kepemilikan asing di Indonesia. Berdasarkan Daftar Positif Investasi (Perpres No. 10/2021), sebagian besar sektor mengizinkan kepemilikan asing hingga 100%, dengan pengecualian untuk industri strategis tertentu.

Persyaratan Utama

  • Total investasi minimum: Rp10 miliar per KBLI

  • Modal disetor: Minimum Rp2,5 miliar

  • Struktur perusahaan: Minimal 2 pemegang saham, 1 direktur, dan 1 komisaris

Kementerian Investasi melaporkan bahwa lebih dari 70% persetujuan FDI baru pada 2023 merupakan PT PMA. Di Batam, model ini semakin menarik karena berhak mendapatkan insentif pajak, fasilitas kepabeanan, dan keuntungan FTZ yang dikelola BP Batam.

Kantor Perwakilan: Opsi Masuk Pasar dengan Risiko Rendah

Bagi investor yang ingin memahami pasar, membangun jaringan, atau melakukan fungsi koordinasi tanpa kegiatan komersial, Kantor Perwakilan (KPPA/KP3A) menjadi opsi yang efisien dan berbiaya rendah.

Keunggulan

  • Kepemilikan asing 100%

  • Tanpa persyaratan modal

  • Perizinan lebih cepat melalui OSS RBA

Keterbatasan

  • Tidak dapat menghasilkan pendapatan

  • Tidak boleh menandatangani kontrak komersial

  • Masa berlaku maksimal 5 tahun, dapat diperpanjang

Sekitar 8% entitas asing masuk melalui kantor perwakilan setiap tahun, umumnya di sektor konsultansi, riset, dan dukungan perdagangan.

Perbandingan Entitas Usaha di Indonesia

Badan Usaha Kepemilikan Modal Kegiatan Ideal Untuk
PT PMA Hingga 100% asing Rp10 miliar investasi, Rp2,5 miliar modal disetor Operasional penuh, kontrak, pendapatan Investor asing menengah–besar
PT Lokal 100% lokal Mulai ±Rp50 juta Operasional penuh, tanpa kepemilikan asing UMKM domestik
Kantor Perwakilan 100% asing (non-komersial) Tidak ada Liaison, riset, promosi Uji pasar
Branch Office Tidak berlaku — — Tidak tersedia menurut hukum Indonesia

Perbandingan ini menegaskan bahwa PT PMA adalah pilihan terbaik bagi investor asing yang ingin beroperasi secara penuh dan jangka panjang di Indonesia.

Mengapa Pemilihan Badan Usaha Sangat Penting di Batam

Sebagai Free Trade Zone (FTZ) dan kawasan strategis dekat Singapura, Batam membutuhkan pemilihan entitas yang tepat sejak awal. Wilayah ini menarik investasi sebesar USD 1,3 miliar pada 2023, didominasi oleh manufaktur, galangan kapal, logistik, dan elektronik.

Kesalahan memilih entitas dapat membuat investor kehilangan manfaat fiskal dan kepabeanan yang seharusnya tersedia dalam zona industri Batam.

Contoh Dampak

  • PT PMA di Batam dapat mengimpor bahan baku tanpa pajak, menggunakan fasilitas berikat, dan mengekspor produk tanpa PPN.

  • Kantor Perwakilan tidak berhak atas fasilitas ini karena tidak menjalankan aktivitas komersial.

Perbedaan ini memengaruhi profitabilitas secara langsung dan menjadikan pemilihan entitas sebagai keunggulan kompetitif.

Kepatuhan & Risiko: Persiapan yang Harus Dilakukan Investor

Setelah menentukan entitas yang tepat, kepatuhan berkelanjutan menjadi krusial. Investor harus mematuhi:

  • Ketentuan pajak di bawah Direktorat Jenderal Pajak

  • Aturan ketenagakerjaan ekspatriat (Permenaker No. 8/2021)

  • Perizinan lingkungan dan operasional sesuai sektor

  • Kesesuaian KBLI antara izin dan kegiatan aktual

Pada 2023, 12% PT PMA menerima peringatan karena ketidaksesuaian KBLI—risiko yang dapat dihindari dengan perencanaan yang tepat.

Langkah Strategis ke Depan

Untuk beroperasi secara optimal di Indonesia:

  1. Pilih entitas yang sesuai (PT PMA untuk sebagian besar investor asing).

  2. Ajukan NIB dan izin sektoral melalui OSS RBA.

  3. Manfaatkan insentif FTZ dan SEZ Batam bila relevan.

  4. Kelola kepatuhan secara konsisten melalui pelaporan yang tepat.

Dengan memperlakukan pemilihan entitas sebagai keputusan strategis, investor dapat mencapai stabilitas jangka panjang, mengoptimalkan insentif, dan memastikan operasi yang efisien di Indonesia.

17 Nov

By: administrator foreign investment, investasi di batam, kawasan industri tunas prima, tunas prima industrial estate Comments: Tidak ada komentar

Panduan Registrasi Bisnis Indonesia untuk Investor Asing (Part 1)

Batam, 17 November 2025 — Memasuki Indonesia tanpa melakukan registrasi usaha yang benar ibarat membangun di atas pasir—tidak memiliki fondasi hukum yang kokoh. Dalam hukum Indonesia, setiap bisnis wajib terdaftar dan berizin melalui Nomor Induk Berusaha (NIB) sesuai Peraturan Pemerintah No. 5/2021 tentang Perizinan Berbasis Risiko.

Dengan NIB, perusahaan memperoleh kapasitas hukum penuh: membuat kontrak, membuka rekening bank, mempekerjakan karyawan, melindungi kekayaan intelektual, hingga mengakses pengadilan Indonesia. Bagi investor asing, ini berarti perlindungan sekaligus kredibilitas pasar—terutama di kawasan yang menjadikan kepastian regulasi sebagai faktor utama. Tren global seperti strategi China+1, restrukturisasi rantai pasok, dan pesatnya pertumbuhan ekonomi ASEAN semakin mendorong perusahaan mencari basis operasi yang stabil di Asia Tenggara, dan Indonesia muncul sebagai salah satu tujuan utama.


OSS RBA: Sistem Perizinan Modern Indonesia

Reformasi perizinan melalui Online Single Submission – Risk-Based Approach (OSS RBA) telah meningkatkan kemudahan berusaha secara signifikan. Sistem ini menyesuaikan persyaratan berdasarkan tingkat risiko dan mempercepat pendirian perusahaan dari hampir 50 hari menjadi sekitar 14 hari. Bagi bisnis internasional, modernisasi ini menghadirkan alur masuk yang lebih pasti, daftar persyaratan yang transparan, dan satu platform digital terpusat.


PT PMA: Struktur Utama untuk Investor Asing

Bagi investor asing, bentuk badan usaha terpenting adalah PT PMA (Perseroan Terbatas Penanaman Modal Asing)—yang memungkinkan kepemilikan asing hingga 100% pada sektor-sektor yang terbuka dalam Daftar Positif Investasi. Namun beberapa sektor tetap membatasi kepemilikan, sehingga memerlukan mitra lokal.

Perbandingan ringkas jenis badan usaha:

Bentuk Usaha Kepemilikan Modal Minimum Cocok Untuk
PT PMA Hingga 100% asing (tergantung sektor) Investasi min. IDR 10 miliar per KBLI; modal disetor IDR 2,5 miliar Industri menengah–besar
PT Lokal 100% pemegang saham lokal ± IDR 50 juta UMKM domestik
Kantor Perwakilan (KPPA/KP3A) 100% asing, tanpa aktivitas penjualan Tidak ada Riset pasar, liaison
Branch Office Tidak berlaku — Tidak diterapkan di Indonesia

Modal minimum menjadi faktor kunci: berdasarkan Peraturan BKPM No. 4/2021, setiap lini usaha PT PMA wajib memenuhi nilai investasi minimum. Banyak investor luput memperhitungkan hal ini, sehingga permohonan ditolak. Pemilihan struktur yang tepat sangat penting untuk memastikan kepatuhan dan skalabilitas.


Kesiapan Operasional: Modal, SDM, dan Kepatuhan

Setelah registrasi, perusahaan harus menyelesaikan verifikasi modal, dokumen tenaga kerja asing (RPTKA/izin kerja), serta mengurus izin sektoral. Pada 2023, 12% perusahaan asing gagal audit BKPM karena KBLI tidak sesuai atau izin sektoral tidak lengkap—menegaskan pentingnya perencanaan sejak awal.


Keunggulan Strategis Batam Dibanding Kota Lain di Indonesia

Jakarta, Surabaya, dan Medan memang pusat bisnis besar, tetapi Batam memiliki keunggulan unik: kombinasi Free Trade Zone dan kedekatan dengan Singapura—sesuatu yang tidak dimiliki kota Indonesia lainnya.

Keunggulan utama Batam:

  • Fasilitas FTZ bebas PPN dan bea masuk

  • Hanya 20 km dari Singapura, akses cepat ke rantai pasok global

  • Biaya operasional lebih rendah dibanding Jakarta dan Bali

  • Proses lahan dan infrastruktur lebih cepat melalui BP Batam

  • Basis kuat untuk manufaktur ekspor, elektronik, dan logistik

Hal ini menjadikan Batam salah satu gerbang masuk paling efisien bagi perusahaan asing yang mencari kombinasi efisiensi biaya dan konektivitas internasional.


Soft Landing Dimulai dari Mitra Kawasan Industri yang Tepat

Bagi investor asing yang berekspansi ke Indonesia—terutama di sektor manufaktur, logistik, dan teknologi—memilih kawasan industri yang tepat dapat mengurangi risiko dan mempercepat operasional.

Tunas Prima Industrial Estate di Batam menawarkan:

  • Lahan industri siap bangun dengan utilitas lengkap

  • Bantuan perizinan NIB, OSS RBA, dan pendirian PT PMA

  • Infrastruktur terpadu: jalan, jaringan listrik, IPAL

  • Lokasi strategis dekat koridor perdagangan Singapura

  • Ekosistem yang mendukung kebutuhan tenant multinasional

Seiring pergeseran rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi ASEAN, Batam menawarkan insentif—dan Tunas Industrial memberikan dukungan eksekusi—untuk membantu bisnis Anda masuk ke Indonesia dengan percaya diri.

15 Agu

By: administrator battery, clou indonesia, foreign investment, green energy, investasi di batam, kawasan industri tunas prima, midea group, news, smart energy, sustainability, tunas prima industrial estate Comments: Tidak ada komentar

Groundbreaking CLOU di Tunas Prima, Pabrik Indonesia Pertama

CLOU Mantapkan Investasi di Batam dengan Groundbreaking Ceremony Pabrik Energi Pintar, Perkuat Hilirisasi Industri dan Ekspor Indonesia ke Pasar Global

Batam, 14 Agustus 2025 – CLOU Electronics Co., Ltd., bagian dari Midea Group dan perusahaan teknologi energi global berbasis di Shenzhen, Tiongkok, hari ini menggelar Groundbreaking Ceremony pembangunan pabrik Battery Energy Storage System (BESS) di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam. Pabrik ini akan dioperasikan oleh PT Klou Teknologi Indonesia, dengan fokus pada packaging dan system integration untuk solusi Energy Storage System (ESS).

Dengan mengusung tema “Smarter Storage, Greener Future”, peresmian ini menandai langkah strategis CLOU dalam memperluas operasional global, memperkuat hilirisasi industri, serta mendekatkan layanan manufaktur ke pasar Asia Tenggara yang berkembang pesat. Acara ini dihadiri oleh Menteri Perdagangan RI Dr. Budi Santoso, M.Si, Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., serta jajaran pimpinan BP Batam, yang memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan investasi energi bersih di Indonesia.

“Pabrik ini akan mendukung target bauran energi nasional, membuka lapangan kerja berbasis teknologi tinggi, serta memperluas peluang ekspor produk energi pintar Indonesia ke pasar internasional,” ungkap Mendag Budi Santoso. Gubernur Kepulauan Riau menambahkan bahwa investasi ini sejalan dengan arah pengembangan Batam sebagai pusat industri hijau dan berdaya saing global.

Kilas Balik: Factory Handover & Ribbon Cutting Ceremony

Momentum groundbreaking hari ini melanjutkan rangkaian ekspansi CLOU di Batam, yang diawali dengan Factory Handover & Ribbon Cutting Ceremony pada 25 Juli 2025. Pada kesempatan tersebut, Presiden CLOU Aaron Li meresmikan pengoperasian awal fasilitas produksi tahap pertama di Gedung #15 Tunas Prima, serta memperkenalkan produk unggulan Aqua C2.5, sistem penyimpanan energi baterai berpendingin cair dengan efisiensi tinggi dan stabilitas jangka panjang.

Fasilitas awal ini telah dilengkapi lantai industri berstandar tinggi, sistem keselamatan terintegrasi, dan tata daya yang mendukung kapasitas produksi hingga 4 GWh per tahun, dengan target beroperasi penuh pada awal 2026.

Sinergi Menuju Ekspor dan Energi Hijau

Menurut Presiden Direktur Operasional & SDM PT Klou Teknologi Indonesia, Zhi Shuai, pabrik Batam akan menjadi pusat manufaktur utama Midea untuk kawasan Asia Tenggara. “Dilengkapi lini produksi canggih, fasilitas ini tidak hanya melayani pasar Indonesia, tetapi juga akan mengekspor ke ASEAN, Amerika Serikat, dan Eropa. Dengan demikian, kami berkontribusi memperkuat perdagangan regional sekaligus mendukung transisi energi terbarukan,” ujarnya.

Mendag Budi Santoso menegaskan bahwa tren global energi bersih membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai dunia. “Investasi ini momentum penting untuk memperkuat daya saing produk baterai nasional. Pemerintah siap mendukung agar produk PT Klou Teknologi Indonesia mampu menembus pasar ekspor,” tegasnya.

Tunas Prima: Mitra Industri Berkelanjutan

Chrispin Andereas, Head of Business Development Tunas Group, menyampaikan apresiasi atas kehadiran CLOU.

“Kami percaya CLOU akan menjadi motor penting pengembangan industri energi pintar di Batam. Tunas Prima siap menjadi mitra jangka panjang dalam ekspansi teknologi hijau ini,” ungkapnya.

Pabrik di Batam ini dirancang untuk mendukung perakitan sistem baterai skala besar dan integrasi solusi penyimpanan energi pintar, yang dibutuhkan oleh sektor industri, utilitas, dan pembangunan smart grid. Dengan kehadiran PT Klou Teknologi Indonesia, diharapkan tercipta lapangan kerja baru, transfer teknologi, dan kontribusi terhadap ekosistem energi bersih nasional.

Industri energi terbarukan sendiri menunjukkan potensi besar di Indonesia, dengan dorongan pemerintah untuk mencapai 23% bauran energi dari sumber baru dan terbarukan (EBT) pada 2025. Teknologi penyimpanan energi seperti ESS (Energy Storage System) menjadi solusi kunci untuk mendukung stabilitas energi dari pembangkit surya dan angin, serta penerapan smart grid di kawasan urban dan industri. Di tengah dorongan besar terhadap kebutuhan energi terbarukan, Tunas Prima hadir sebagai kawasan industri berwawasan hijau, menyediakan fasilitas modern dengan pendekatan sustainability dan efisiensi energi.

Sebagai kawasan industri terpadu, Kawasan Industri Tunas Prima menawarkan lokasi strategis, infrastruktur modern, dan komitmen pada green industry. Kehadiran CLOU menjadi bukti nyata bahwa Tunas Prima adalah mitra ideal bagi perusahaan global yang ingin mengembangkan bisnis berkelanjutan di Indonesia dan Asia Tenggara.

  • 1
  • 2
  • 3
Pos-pos Terbaru
  • Tunas Industrial Berbagi Kebahagiaan Kecil Lewat Takjil Ramadhan
  • Indonesia 2026: Pergeseran Agresif Menuju Hilirisasi
  • Prospek Industri Nikel Indonesia 2026
  • Partisipasi Tunas Industrial di Southeast Asia & North Africa Overseas Summit 2025
  • Prospek Bisnis Industri Hijau Indonesia 2026
Komentar Terbaru
    Pos-pos Terbaru
    • Tunas Industrial Berbagi Kebahagiaan Kecil Lewat Takjil Ramadhan
    • Indonesia 2026: Pergeseran Agresif Menuju Hilirisasi
    • Prospek Industri Nikel Indonesia 2026
    • Partisipasi Tunas Industrial di Southeast Asia & North Africa Overseas Summit 2025
    • Prospek Bisnis Industri Hijau Indonesia 2026
    Arsip
    • Maret 2026
    • Januari 2026
    • Desember 2025
    • November 2025
    • Oktober 2025
    • Agustus 2025
    • Juli 2025
    • Juni 2025
    • Mei 2025
    • April 2025
    • Maret 2025
    • November 2024
    • Oktober 2024
    • September 2024
    • Mei 2024
    • Oktober 2023
    Kategori
    • Artikel
    • Berita
    Meta
    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    HEAD OFFICE

    • Kawasan Industri Tunas Bizpark Blok 10J Belian, Kec. Batam Kota, Batam Kepulauan Riau, Indonesia, 29444

    CONTACT

    • +62 778-471-818
    • +62 811-7711-818
    • [email protected] [email protected]
    Copyright © 2021 Tunas Industrial All rights reserved.