
16 Agu
80 Tahun Indonesia – Merayakan Persatuan dan Simbol Perjuangan Abadi
BATAM, 17 Agustus 2025 – Setiap tanggal 17 Agustus, merah putih berkibar di setiap sudut negeri. Spanduk dan umbul-umbul menghiasi jalanan, suara lagu Indonesia Raya menggema dari sekolah hingga lapangan kota. Namun, Hari Kemerdekaan bukan sekadar tanggal di kalender. Ia adalah momen hidup — sebuah penghormatan bagi para pejuang yang merebut kemerdekaan, sekaligus wujud syukur bangsa yang kini berdiri sebagai republik yang beragam, demokratis, dan bersatu.
Di balik parade resmi dan upacara kenegaraan, perayaan kemerdekaan juga tumbuh di tengah masyarakat. Ada tawa riang di lomba makan kerupuk, semangat pantang menyerah dalam balap karung, hingga kebanggaan saat Garuda Pancasila terpatri di dada. Setiap momen ini adalah bahasa persatuan yang dipahami oleh setiap orang Indonesia.
Balap Karung – Melompat Melintasi Sejarah
Sekilas terlihat sederhana: masuk ke dalam karung, melompat menuju garis akhir. Namun, bagi banyak orang Indonesia, balap karung adalah kenangan masa kecil yang penuh makna. Lahir di masa pasca-perang, permainan ini mencerminkan ketangguhan: bergerak maju meski terbatas, jatuh lalu bangkit, selalu dibantu sorakan dan dukungan sekitar.

Nilainya jelas: keteguhan menghadapi tantangan, kebersamaan dalam perjuangan, dan kesetaraan bagi siapa pun yang ikut berlomba.
Lomba Makan Kerupuk – Sukacita dalam Tradisi Sederhana
Kerupuk digantung, tangan di belakang, mulut berusaha menggigit sambil tertawa. Sederhana, namun di situlah indahnya.

Permainan ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tak perlu kemewahan. Dari anak-anak hingga orang tua, dari desa hingga kota, semua ikut serta dan tertawa bersama. Inilah wajah Indonesia: inklusif, hangat, dan penuh sukacita.
Indonesia Raya – Lagu yang Menyatukan Jiwa
Tak ada perayaan kemerdekaan tanpa Indonesia Raya. Dinyanyikan dengan tangan di dada, lagu ini membangkitkan rasa haru dan persatuan. Pertama kali diperdengarkan pada 1928, ia menjadi nyanyian perjuangan menuju kemerdekaan. Hingga kini, setiap baitnya adalah janji setia kepada tanah air, sejarah, dan masa depan bangsa.
Merah Putih – Dijahit dengan Pengorbanan
Bendera kebanggaan kita pertama kali dijahit tangan oleh Fatmawati, istri Presiden Soekarno, menggunakan kain katun sederhana. Merah melambangkan keberanian, putih melambangkan kesucian.
Saat pertama kali berkibar pada 17 Agustus 1945, ia menjadi saksi keberanian melawan penjajahan. Hingga kini, setiap pengibaran bendera adalah penghormatan pada pengorbanan para pahlawan.
Garuda Pancasila – Lambang Persatuan dan Kekuatan
Dengan sayap terbentang dan tatapan tegas, Garuda Pancasila memegang semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Perisainya memuat Pancasila, lima fondasi moral dan sosial bangsa. Ia mengingatkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan persatuan adalah kunci Indonesia terus maju:
- Ketuhanan Yang Maha Esa – Bintang: landasan spiritual dan moral bersama
- Kemanusiaan yang Adil dan Beradab – Rantai: koneksi manusia dan keadilan sosial
- Persatuan Indonesia – Pohon Beringin: pluralisme dalam keutuhan
- Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan – Kepala Banteng: demokrasi deliberatif
- Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia – Padi dan Kapas: kesejahteraan dan pemerataan
Lebih dari Sekadar Perayaan
Hari Kemerdekaan adalah tawa, kebanggaan, dan rasa syukur yang menyatukan bangsa dari desa hingga kota. Warisan ini kita jaga demi masa depan yang lebih baik.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80
Dari Tunas Industrial, kami mengucapkan:
“Bersatu, Berjuang, Melaju untuk Indonesia Maju” — semangat yang akan terus kami bawa untuk membangun, berinovasi, dan berkontribusi bagi negeri tercinta.

16 Agu
Menguatkan Industri, Menguatkan Bangsa
Batam, 16 Agustus 2025 – Sejak awal kemerdekaan, sektor industri Indonesia telah melewati berbagai fase penting—dari pemulihan infrastruktur pasca-kolonial, akselerasi industrialisasi di era Orde Baru, krisis global, hingga era reformasi dan teknologi digital. Perjalanan panjang ini menegaskan satu hal: industri yang kuat adalah pilar ketahanan ekonomi nasional.
Evolusi Menuju Industri Modern
Pada 1960-an, manufaktur hanya menyumbang kurang dari 10% Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, kebijakan pro-industri dan orientasi ekspor di era 1970–1990-an mendorong kontribusi manufaktur menjadi 25% PDB pada 1997, dengan lebih dari separuh ekspor berasal dari produk olahan. Sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik menjadikan Indonesia salah satu pusat produksi global yang kompetitif.
Era reformasi membawa tantangan sekaligus peluang—liberalisasi ekonomi, masuknya teknologi, dan terbukanya pasar global memaksa industri beradaptasi dan naik kelas.
Pilar Ekonomi yang Tetap Kuat
Kini, sektor manufaktur menyumbang 18,98% PDB (2024), melampaui rata-rata global 15,3% dan mengungguli negara seperti India dan Brasil. Lebih dari 18 juta pekerja terserap di sektor ini, terutama di sub-sektor makanan-minuman (32% kontribusi PDB manufaktur), logam dasar (9%), tekstil (7%), dan komponen otomotif (6%).
Investasi di sektor manufaktur pada 2024 mencapai Rp721,3 triliun atau 42,1% dari total investasi nasional. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur konsisten di atas 51,0, menandakan ekspansi stabil, meski pada kuartal II 2025 FDI sempat turun 6,95% year-on-year menjadi Rp202,2 triliun.
Batam: Bukti Nyata Keberhasilan Kawasan Industri
Batam adalah contoh bagaimana kawasan industri regional dapat mendongkrak ekonomi nasional. Berlokasi strategis di jalur perdagangan internasional dekat Singapura, Batam berkembang menjadi pusat industri elektronik, galangan kapal, dan manufaktur berteknologi menengah-tinggi.
BP Batam menargetkan investasi Rp60 triliun pada 2025. Hingga pertengahan tahun, realisasi investasi—gabungan PMA dan PMDN—mencapai Rp33,72 triliun atau 56,2% dari target, naik 64,94% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Laju ini memperkuat peran Batam dalam mendukung agenda industrialisasi nasional.
Hilirisasi: Strategi Ketahanan Ekonomi
Kebijakan hilirisasi terbukti mengubah struktur ekonomi. Ekspor produk olahan nikel, misalnya, melonjak dari USD 1,4 miliar (2014) menjadi hampir USD 61 miliar (2024), menjadikan Indonesia pemimpin global di pasar ini. Undang-Undang No. 3/2020 dan Peraturan Menteri ESDM No. 11/2020 memperkuat larangan ekspor mineral mentah dan mendorong pengolahan dalam negeri, sementara kawasan industri terintegrasi dibangun untuk menampung investasi smelter, manufaktur, dan teknologi tinggi.
Langkah ini sejalan dengan Making Indonesia 4.0 dan pengembangan Digital Industry Center (PIDI 4.0), yang fokus pada adopsi teknologi, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan penguatan daya saing industri di pasar global.
Menatap Masa Depan
Penguatan basis industri adalah strategi jangka panjang untuk ketahanan ekonomi Indonesia. Di Batam, kawasan industri strategis memegang peranan penting—salah satunya Tunas Prima.
Dengan infrastruktur kelas dunia, lokasi yang terkoneksi langsung ke jalur perdagangan internasional, dan fasilitas yang dirancang untuk efisiensi produksi dan distribusi, Tunas Prima siap menjadi katalis pertumbuhan sektor industri Indonesia. Lebih dari sekadar kawasan industri, Tunas Prima adalah mitra ekspansi bisnis bagi investor yang ingin memanfaatkan peluang besar di salah satu ekonomi berkembang paling dinamis di Asia.

15 Agu
Groundbreaking CLOU di Tunas Prima, Pabrik Indonesia Pertama
CLOU Mantapkan Investasi di Batam dengan Groundbreaking Ceremony Pabrik Energi Pintar, Perkuat Hilirisasi Industri dan Ekspor Indonesia ke Pasar Global
Batam, 14 Agustus 2025 – CLOU Electronics Co., Ltd., bagian dari Midea Group dan perusahaan teknologi energi global berbasis di Shenzhen, Tiongkok, hari ini menggelar Groundbreaking Ceremony pembangunan pabrik Battery Energy Storage System (BESS) di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam. Pabrik ini akan dioperasikan oleh PT Klou Teknologi Indonesia, dengan fokus pada packaging dan system integration untuk solusi Energy Storage System (ESS).
Dengan mengusung tema “Smarter Storage, Greener Future”, peresmian ini menandai langkah strategis CLOU dalam memperluas operasional global, memperkuat hilirisasi industri, serta mendekatkan layanan manufaktur ke pasar Asia Tenggara yang berkembang pesat. Acara ini dihadiri oleh Menteri Perdagangan RI Dr. Budi Santoso, M.Si, Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, S.E., M.M., serta jajaran pimpinan BP Batam, yang memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan investasi energi bersih di Indonesia.
“Pabrik ini akan mendukung target bauran energi nasional, membuka lapangan kerja berbasis teknologi tinggi, serta memperluas peluang ekspor produk energi pintar Indonesia ke pasar internasional,” ungkap Mendag Budi Santoso. Gubernur Kepulauan Riau menambahkan bahwa investasi ini sejalan dengan arah pengembangan Batam sebagai pusat industri hijau dan berdaya saing global.
Kilas Balik: Factory Handover & Ribbon Cutting Ceremony
Momentum groundbreaking hari ini melanjutkan rangkaian ekspansi CLOU di Batam, yang diawali dengan Factory Handover & Ribbon Cutting Ceremony pada 25 Juli 2025. Pada kesempatan tersebut, Presiden CLOU Aaron Li meresmikan pengoperasian awal fasilitas produksi tahap pertama di Gedung #15 Tunas Prima, serta memperkenalkan produk unggulan Aqua C2.5, sistem penyimpanan energi baterai berpendingin cair dengan efisiensi tinggi dan stabilitas jangka panjang.
Fasilitas awal ini telah dilengkapi lantai industri berstandar tinggi, sistem keselamatan terintegrasi, dan tata daya yang mendukung kapasitas produksi hingga 4 GWh per tahun, dengan target beroperasi penuh pada awal 2026.
Sinergi Menuju Ekspor dan Energi Hijau
Menurut Presiden Direktur Operasional & SDM PT Klou Teknologi Indonesia, Zhi Shuai, pabrik Batam akan menjadi pusat manufaktur utama Midea untuk kawasan Asia Tenggara. “Dilengkapi lini produksi canggih, fasilitas ini tidak hanya melayani pasar Indonesia, tetapi juga akan mengekspor ke ASEAN, Amerika Serikat, dan Eropa. Dengan demikian, kami berkontribusi memperkuat perdagangan regional sekaligus mendukung transisi energi terbarukan,” ujarnya.
Mendag Budi Santoso menegaskan bahwa tren global energi bersih membuka peluang besar bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok baterai dunia. “Investasi ini momentum penting untuk memperkuat daya saing produk baterai nasional. Pemerintah siap mendukung agar produk PT Klou Teknologi Indonesia mampu menembus pasar ekspor,” tegasnya.
Tunas Prima: Mitra Industri Berkelanjutan
Chrispin Andereas, Head of Business Development Tunas Group, menyampaikan apresiasi atas kehadiran CLOU.
“Kami percaya CLOU akan menjadi motor penting pengembangan industri energi pintar di Batam. Tunas Prima siap menjadi mitra jangka panjang dalam ekspansi teknologi hijau ini,” ungkapnya.
Pabrik di Batam ini dirancang untuk mendukung perakitan sistem baterai skala besar dan integrasi solusi penyimpanan energi pintar, yang dibutuhkan oleh sektor industri, utilitas, dan pembangunan smart grid. Dengan kehadiran PT Klou Teknologi Indonesia, diharapkan tercipta lapangan kerja baru, transfer teknologi, dan kontribusi terhadap ekosistem energi bersih nasional.
Industri energi terbarukan sendiri menunjukkan potensi besar di Indonesia, dengan dorongan pemerintah untuk mencapai 23% bauran energi dari sumber baru dan terbarukan (EBT) pada 2025. Teknologi penyimpanan energi seperti ESS (Energy Storage System) menjadi solusi kunci untuk mendukung stabilitas energi dari pembangkit surya dan angin, serta penerapan smart grid di kawasan urban dan industri. Di tengah dorongan besar terhadap kebutuhan energi terbarukan, Tunas Prima hadir sebagai kawasan industri berwawasan hijau, menyediakan fasilitas modern dengan pendekatan sustainability dan efisiensi energi.
Sebagai kawasan industri terpadu, Kawasan Industri Tunas Prima menawarkan lokasi strategis, infrastruktur modern, dan komitmen pada green industry. Kehadiran CLOU menjadi bukti nyata bahwa Tunas Prima adalah mitra ideal bagi perusahaan global yang ingin mengembangkan bisnis berkelanjutan di Indonesia dan Asia Tenggara.