
08 Des
Partisipasi Tunas Industrial di Southeast Asia & North Africa Overseas Summit 2025
Shanghai — 6 Desember 2025. Tunas Industrial kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong ekspansi industri global dengan berpartisipasi pada Southeast Asia & North Africa Overseas Summit 2025, yang berlangsung pada 5–6 Desember di Primus Hotel Shanghai Hongqiao. Acara yang diselenggarakan oleh Shan Hai Map ini dihadiri lebih dari 4.500 perusahaan yang tengah mengeksplorasi ekspansi ke destinasi manufaktur dengan pertumbuhan tercepat di dunia.
Momentum Kuat Indonesia dalam Pergeseran Rantai Pasok Global
Summit ini menyoroti perubahan besar dalam rantai pasok global yang semakin mengarahkan investasi ke Asia Tenggara dan Afrika Utara sebagai pusat manufaktur baru. Indonesia tampil menonjol berkat stabilitas ekonomi, ketersediaan tenaga kerja kompetitif, ekosistem industri yang berkembang, serta infrastruktur yang terus meningkat.
Para pakar juga menyoroti sektor-sektor yang tengah tumbuh pesat—mulai dari energi hijau dan baterai, komponen kendaraan listrik, perangkat medis, pusat data, elektronik pintar, hingga industri kimia. Seluruh sektor ini memiliki keselarasan kuat dengan kapabilitas industri Tiongkok dan membuka peluang kolaborasi yang luas.
Analisis pemilihan lokasi investasi menunjukkan Indonesia, khususnya Batam, sebagai pilihan utama bagi perusahaan yang mencari basis operasi yang efisien, mudah dikembangkan, dan strategis. Kedekatan geografis dengan Singapura serta dukungan pemerintah menjadi nilai tambah besar bagi perusahaan Tiongkok yang ingin memperluas pasar ke Asia Tenggara.
Diskusi forum juga menegaskan percepatan Indonesia menuju manufaktur bernilai tambah tinggi, terutama di ekosistem EV, energi terbarukan, elektronik, perangkat medis, dan infrastruktur digital. Kejelasan regulasi, peningkatan konektivitas industri, dan peluang infrastruktur berbasis KPBU semakin memperkuat optimisme investor terhadap Indonesia.
Dengan pertumbuhan ekonomi digital dan ritel yang terus meningkat, Indonesia semakin diakui sebagai salah satu pasar paling dinamis dan siap tumbuh di Asia.
Tunas Prima — Gerbang Strategis Investor Tiongkok
Sepanjang acara, Tunas Industrial membuka booth pameran yang memberikan wawasan langsung mengenai potensi pasar Batam dan peluang ekspansi ke Indonesia. Tim mempresentasikan Tunas Prima Industrial Estate, yang mengedepankan ekosistem industri hijau terintegrasi, fasilitas yang dapat dikembangkan secara fleksibel, serta infrastruktur modern untuk mendukung investasi asing.
Para pengunjung mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang posisi strategis Batam dalam Segitiga Emas Singapura–Malaysia–Batam, yang menawarkan konektivitas terbaik untuk manufaktur dan distribusi regional. Dengan insentif pemerintah serta utilitas yang andal, Tunas Prima menjadi katalis bagi manufaktur maju dan mitra tepercaya bagi perusahaan Tiongkok yang memasuki pasar Asia Tenggara.

02 Des
Prospek Bisnis Industri Hijau Indonesia 2026
Dari Kekuatan SDA Menuju Pusat Industri Hijau Asia
Memasuki tahun 2026, Indonesia berada pada titik transformasi penting. Setelah serangkaian reformasi di tahun 2025, ekspansi infrastruktur, serta meningkatnya arus investasi hijau, Indonesia sedang bergerak dari ekonomi berbasis sumber daya menuju pusat manufaktur berkelanjutan dan energi bersih di Asia.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan sumber daya strategis terbesar di dunia, menjadi pilar penting bagi industri energi bersih global:
- Nikel – komponen utama baterai kendaraan listrik
- Bauksit & Timah – bahan penting industri elektronik dan semikonduktor
- Kelapa Sawit – menopang biofuel dan rantai pasok pangan global
Kekuatan SDA ini menjadi landasan Indonesia untuk beralih dari komoditas mentah menuju produksi bernilai tambah tinggi.
Hilirisasi: Kunci Transformasi Industri Nasional
Agenda hilirisasi menjadi strategi utama pemerintah untuk meningkatkan nilai ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing industri. Kebijakan ini diperkuat oleh Omnibus Law dan sistem perizinan digital OSS RBA, yang mempermudah proses pendirian pabrik dan menarik investasi pada sektor manufaktur terintegrasi seperti baterai EV, komponen surya, dan bahan kimia industri. Untuk mempercepat modernisasi kapasitas industri, pemerintah mempermudah impor bahan baku dan mesin bagi sektor prioritas:
- Penurunan tarif tertentu
- Penyederhanaan dokumen impor
- Fasilitasi teknologi dan mesin berstandar internasional
Langkah ini memastikan industri Indonesia tetap kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok global.
Pertumbuhan Pesat Logistik, Elektronik & Sektor Maritim
Pertumbuhan e-commerce, integrasi manufaktur regional, dan digitalisasi memicu lonjakan kebutuhan logistik. Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia tengah memasuki fase boom baru di sektor maritim & logistik, ditandai oleh:
- Pengembangan pelabuhan dan kawasan berikat
- Smart warehouse
- Pusat manufaktur elektronik yang dekat dengan jalur pelayaran internasional
Permintaan dari ASEAN dan Asia Timur turut memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi elektronik yang efisien dan strategis.
Batam: Gerbang Perdagangan dan Inovasi Regional
Dengan lokasi hanya 20 km dari Singapura, Batam terus berkembang menjadi hub inovasi yang menghubungkan manufaktur Indonesia dengan jaringan supply chain Asia Timur. Salah satu kawasan unggulannya, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE), menghadirkan infrastruktur hijau bersertifikasi, utilitas terintegrasi, dan fasilitas siap bangun — menjadikannya pilihan ideal untuk manufaktur ekspor dan logistik.
Tren Energi 2025–2026: Menggerakkan Babak Baru Industri Indonesia
Dua tahun ke depan, sektor energi akan menjadi penggerak utama transformasi industri:
- Dominasi Energi Terbarukan – PLTS dan tenaga angin makin kompetitif
- Teknologi Penyimpanan Energi – inovasi baterai, hidrogen, dan sistem grid
- Transportasi Elektrifikasi – 1 dari 4 kendaraan baru adalah EV
- Efisiensi Energi Industri – smart energy management menekan emisi dan biaya
- Hidrogen Hijau & CCS – peluang investasi generasi berikutnya
- AI & Digitalisasi Energi – meningkatkan prediksi dan efisiensi distribusi
- Microgrid & Rooftop Solar – memperkuat ketahanan energi lokal
- Modernisasi Infrastruktur Listrik – smart metering & grid upgrade
- Pembiayaan Hijau – green bond dan insentif pajak dorong pertumbuhan ESG
Memasuki 2026, transformasi industri dan transisi energi Indonesia semakin dipercepat. Dengan fondasi regulasi yang kuat, kebijakan yang stabil, dan kolaborasi regional yang kian erat, Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam ekonomi hijau Asia.
Bagi investor global, Indonesia bukan sekadar pasar berkembang, tetapi gerbang strategis menuju manufaktur dan energi berkelanjutan. Peran ini terlihat paling jelas di Batam, yang berada di jalur perdagangan internasional dan memiliki infrastruktur kelas dunia untuk operasi regional.
Di tengah ekosistem tersebut, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) hadir sebagai platform industri generasi baru— menggabungkan infrastruktur hijau, konektivitas logistik yang unggul, dan fasilitas siap bangun berbasis ESG. Dengan insentif investasi, kemudahan impor, hingga peluang masuk ke rantai pasok energi terbarukan dan teknologi tinggi, TPIE membantu investor mengubah peluang menjadi aksi — dan pertumbuhan menjadi keberlanjutan.

02 Des
Regulasi Industri Hijau dan Kemudahan Investasi di Indonesia
Pasca transisi menuju ekonomi hijau, Indonesia kini memperkuat fondasi hukumnya untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Berbagai reformasi strategis dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, insentif fiskal, dan jaminan kepastian hukum — menjadikan Indonesia destinasi utama bagi investasi manufaktur, energi, dan teknologi.
1. Omnibus Law & Kemudahan Perizinan Digital via OSS RBA
Melalui Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) dan sistem Online Single Submission – Risk-Based Approach (OSS RBA), pemerintah menghadirkan model perizinan yang cepat, transparan, dan sepenuhnya digital.
Investor kini dapat memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin operasional dalam hitungan hari, dengan penilaian berbasis tingkat risiko usaha. Kebijakan ini mempersingkat birokrasi dan memberikan kepastian bagi perusahaan asing yang ingin segera memulai operasi di Indonesia.
2. Insentif Fiskal: Tax Holiday & Tax Allowance
Untuk sektor-sektor prioritas seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, semikonduktor, dan farmasi, pemerintah menawarkan tax holiday hingga 20 tahun serta tax allowance berupa pengurangan penghasilan kena pajak hingga 60% dari total investasi. Insentif ini bertujuan menarik perusahaan global yang ingin menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur dan ekspor di Asia Tenggara.
3. Kepastian Hukum atas Kepemilikan Lahan Industri Asing
Kepastian hukum menjadi aspek kunci bagi investor asing. Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, investor asing dijamin mendapatkan perlakuan yang sama dengan investor domestik, termasuk perlindungan hukum terhadap hak kepemilikan dan kegiatan usaha.
Investor asing tidak dapat memiliki tanah berstatus hak milik secara langsung, namun memiliki opsi legal melalui mekanisme PT Penanaman Modal Asing (PT PMA) — badan hukum Indonesia yang memungkinkan kepemilikan lahan industri melalui:
- Hak Guna Bangunan (HGB) atau Hak Pakai untuk keperluan industri dan komersial.
- Jangka waktu hingga 80 tahun, termasuk perpanjangan.
- Perlindungan hukum penuh sesuai Pasal 6 dan 7 UU No. 25/2007 terhadap investor asing.
4. Insentif untuk Green & High-Tech Industries
Sejalan dengan arah kebijakan Net Zero Emission 2060, pemerintah memberikan prioritas tinggi bagi investasi di sektor energi hijau dan hi-tech. Melalui berbagai kebijakan seperti Green Investment Facility dan dukungan pembiayaan berstandar ESG, investor di bidang panel surya, baterai lithium, hydrogen hub, hingga digital industry berkelanjutan memperoleh kemudahan akses pendanaan dan fiskal.
Kawasan seperti Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) di Batam telah menyesuaikan tata kelola dan infrastrukturnya untuk mendukung target tersebut — dari sistem pengelolaan limbah industri terintegrasi hingga sertifikasi Green Mark Infrastructure. Hal ini menjadikan TPIE salah satu lokasi unggulan untuk ekspansi industri berkelanjutan dan teknologi tinggi di Indonesia.
5. Kolaborasi Bilateral Indonesia–Tiongkok: Manufaktur & Logistik
Kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok terus meningkat, terutama di sektor manufaktur, energi, dan infrastruktur logistik. Melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan berbagai proyek joint venture, investor Tiongkok kini memanfaatkan Batam, Medan, Jakarta, Surabaya, Morowali, dan Kendal sebagai pusat produksi strategis di Asia Tenggara. Dengan jarak hanya 20 km dari Singapura dan berada di jalur pelayaran internasional, Batam menempati posisi strategis dalam koridor ekonomi maritim regional. Tunas Prima Industrial Estate siap menjadi jembatan baru kolaborasi kedua negara — menghubungkan kekuatan teknologi Tiongkok dengan potensi pasar dan sumber daya Indonesia.
Menuju Ekosistem Investasi yang Lebih Transparan dan Berkelanjutan
Dengan reformasi regulasi, insentif fiskal, dan infrastruktur yang semakin kuat, Indonesia memasuki era investasi baru yang pro-bisnis dan berorientasi keberlanjutan. Sinergi antara kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan komitmen energi hijau menempatkan Indonesia bukan sekadar pasar potensial, melainkan mitra strategis bagi investor global di Asia Tenggara.

01 Des
Tren Renewable Energy Dorong Gelombang Investasi Baru di Indonesia
Transisi tahun 2025 menuju 2026 menjadi titik balik industri energi global. Dunia tengah bergerak cepat menuju masa depan rendah karbon, di mana energi terbarukan, teknologi baterai, dan kendaraan listrik menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan kebijakan transisi energi yang semakin matang, kini muncul sebagai pemain kunci dalam peta energi hijau Asia — dan membuka peluang besar bagi investasi, terutama dari Tiongkok.
Transformasi Energi Global: Dari Krisis Iklim ke Revolusi Hijau
Tekanan krisis iklim, kebijakan net zero, dan inovasi teknologi mendorong perubahan arah pasar energi dunia. Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat, lonjakan permintaan listrik dunia pada 2025 hampir sepenuhnya dipenuhi oleh energi rendah emisi, sehingga mencegah tambahan sekitar 2,6 miliar ton CO₂ per tahun. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan energi bersih, digitalisasi, dan regulasi hijau kini berada di garis depan kompetisi industri global.
Potensi Indonesia Menuju Ekonomi Hijau Bernilai Rp 8.824 Triliun
Indonesia memiliki visi besar menuju Net Zero Emission 2060, dengan strategi nasional yang tercantum dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN 2024). Dari total proyeksi 444 GW kapasitas pembangkit pada 2060, sebesar 73,6% atau 326 GW ditargetkan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Potensi ini ditopang oleh kekayaan sumber daya:
- Matahari: potensi PLTS hingga 266 GW
- Angin: potensi PLTB hingga 73,5 GW
- Penyimpanan energi & baterai: 58 GW kapasitas energi cadangan
- Geotermal: terbesar kedua di dunia
- Bioetanol & hidrogen hijau: mendukung sektor industri dan transportasi
Dengan nilai ekonomi yang diproyeksikan mencapai Rp8.824 triliun pada 2060, Indonesia menjadi ladang investasi strategis untuk sektor energi bersih dan manufaktur berkelanjutan.
Dukungan Pemerintah Lewat Regulasi Ramah Investasi
Pemerintah memperkuat komitmen EBT melalui berbagai kebijakan strategis. Langkah-langkah ini menegaskan arah Indonesia sebagai pusat manufaktur hijau Asia Tenggara:
- Feed-in Tariff untuk memastikan harga listrik terbarukan tetap kompetitif.
- Skema Power Wheeling yang memungkinkan penjualan listrik hijau antar pihak.
- Insentif fiskal & tax holiday bagi manufaktur energi terbarukan dan EV
- Subsidi EV, pembebasan pajak, serta dukungan pembangunan pabrik baterai, charging station, hingga industri daur ulang baterai.
- Dukungan perizinan cepat melalui sistem OSS RBA
Batam Sebagai Hub Strategis Industri Hijau Indonesia
Dalam konteks regional, Batam menempati posisi strategis di jalur perdagangan global, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sebagai gerbang pasar ASEAN. Kota industri terdepan Indonesia ini tengah berkembang menjadi green industrial hub dengan dukungan infrastruktur handal dan kebijakan fiskal kompetitif.
Sebagai salah satu kawasan industri unggulan di Batam, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) hadir sebagai mitra pilihan bagi investor yang ingin berekspansi ke bisnis renewable energy dan green manufacturing.
Keunggulan Tunas Prima Industrial Estate
- Infrastruktur handal bersertifikasi Greenmark
- Sistem pengelolaan air & limbah industri terintegrasi berbasis ESG
- Akses dekat dan mudah ke bandara internasional, ferry terminal rute Batam-Singapore-Malaysia, dan pelabuhan barang/kargo
- Ketersediaan lahan industri dilengkapi fasilitas dan utilitas modern
Peluang Kolaborasi Indonesia–Tiongkok: Industri Energi Hijau Terintegrasi
Sebagai pemimpin global dalam teknologi baterai dan kendaraan listrik, Tiongkok memiliki peluang strategis untuk memperluas jaringan produksinya di Indonesia—pasar dengan potensi energi terbarukan yang besar dan komitmen kuat terhadap transisi hijau. Melalui kolaborasi investasi dan transfer teknologi, kedua negara dapat membangun rantai pasok regional yang terintegrasi, mencakup produksi baterai lithium, manufaktur EV, hingga sistem penyimpanan energi pintar.
Di tengah arus transisi energi nasional, Tunas Prima Industrial Estate menawarkan pintu masuk ideal bagi investor Tiongkok untuk menjangkau pasar ASEAN lewat pengembangan industri rendah karbon berbasis ESG, menggabungkan keberlanjutan dengan profitabilitas.