
02 Des
Prospek Bisnis Industri Hijau Indonesia 2026
Dari Kekuatan SDA Menuju Pusat Industri Hijau Asia
Memasuki tahun 2026, Indonesia berada pada titik transformasi penting. Setelah serangkaian reformasi di tahun 2025, ekspansi infrastruktur, serta meningkatnya arus investasi hijau, Indonesia sedang bergerak dari ekonomi berbasis sumber daya menuju pusat manufaktur berkelanjutan dan energi bersih di Asia.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan sumber daya strategis terbesar di dunia, menjadi pilar penting bagi industri energi bersih global:
- Nikel – komponen utama baterai kendaraan listrik
- Bauksit & Timah – bahan penting industri elektronik dan semikonduktor
- Kelapa Sawit – menopang biofuel dan rantai pasok pangan global
Kekuatan SDA ini menjadi landasan Indonesia untuk beralih dari komoditas mentah menuju produksi bernilai tambah tinggi.
Hilirisasi: Kunci Transformasi Industri Nasional
Agenda hilirisasi menjadi strategi utama pemerintah untuk meningkatkan nilai ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat daya saing industri. Kebijakan ini diperkuat oleh Omnibus Law dan sistem perizinan digital OSS RBA, yang mempermudah proses pendirian pabrik dan menarik investasi pada sektor manufaktur terintegrasi seperti baterai EV, komponen surya, dan bahan kimia industri. Untuk mempercepat modernisasi kapasitas industri, pemerintah mempermudah impor bahan baku dan mesin bagi sektor prioritas:
- Penurunan tarif tertentu
- Penyederhanaan dokumen impor
- Fasilitasi teknologi dan mesin berstandar internasional
Langkah ini memastikan industri Indonesia tetap kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok global.
Pertumbuhan Pesat Logistik, Elektronik & Sektor Maritim
Pertumbuhan e-commerce, integrasi manufaktur regional, dan digitalisasi memicu lonjakan kebutuhan logistik. Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia tengah memasuki fase boom baru di sektor maritim & logistik, ditandai oleh:
- Pengembangan pelabuhan dan kawasan berikat
- Smart warehouse
- Pusat manufaktur elektronik yang dekat dengan jalur pelayaran internasional
Permintaan dari ASEAN dan Asia Timur turut memperkuat posisi Indonesia sebagai basis produksi elektronik yang efisien dan strategis.
Batam: Gerbang Perdagangan dan Inovasi Regional
Dengan lokasi hanya 20 km dari Singapura, Batam terus berkembang menjadi hub inovasi yang menghubungkan manufaktur Indonesia dengan jaringan supply chain Asia Timur. Salah satu kawasan unggulannya, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE), menghadirkan infrastruktur hijau bersertifikasi, utilitas terintegrasi, dan fasilitas siap bangun — menjadikannya pilihan ideal untuk manufaktur ekspor dan logistik.
Tren Energi 2025–2026: Menggerakkan Babak Baru Industri Indonesia
Dua tahun ke depan, sektor energi akan menjadi penggerak utama transformasi industri:
- Dominasi Energi Terbarukan – PLTS dan tenaga angin makin kompetitif
- Teknologi Penyimpanan Energi – inovasi baterai, hidrogen, dan sistem grid
- Transportasi Elektrifikasi – 1 dari 4 kendaraan baru adalah EV
- Efisiensi Energi Industri – smart energy management menekan emisi dan biaya
- Hidrogen Hijau & CCS – peluang investasi generasi berikutnya
- AI & Digitalisasi Energi – meningkatkan prediksi dan efisiensi distribusi
- Microgrid & Rooftop Solar – memperkuat ketahanan energi lokal
- Modernisasi Infrastruktur Listrik – smart metering & grid upgrade
- Pembiayaan Hijau – green bond dan insentif pajak dorong pertumbuhan ESG
Memasuki 2026, transformasi industri dan transisi energi Indonesia semakin dipercepat. Dengan fondasi regulasi yang kuat, kebijakan yang stabil, dan kolaborasi regional yang kian erat, Indonesia siap mengambil peran lebih besar dalam ekonomi hijau Asia.
Bagi investor global, Indonesia bukan sekadar pasar berkembang, tetapi gerbang strategis menuju manufaktur dan energi berkelanjutan. Peran ini terlihat paling jelas di Batam, yang berada di jalur perdagangan internasional dan memiliki infrastruktur kelas dunia untuk operasi regional.
Di tengah ekosistem tersebut, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) hadir sebagai platform industri generasi baru— menggabungkan infrastruktur hijau, konektivitas logistik yang unggul, dan fasilitas siap bangun berbasis ESG. Dengan insentif investasi, kemudahan impor, hingga peluang masuk ke rantai pasok energi terbarukan dan teknologi tinggi, TPIE membantu investor mengubah peluang menjadi aksi — dan pertumbuhan menjadi keberlanjutan.

02 Des
Regulasi Industri Hijau dan Kemudahan Investasi di Indonesia
Pasca transisi menuju ekonomi hijau, Indonesia kini memperkuat fondasi hukumnya untuk menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif dan berkelanjutan. Berbagai reformasi strategis dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, insentif fiskal, dan jaminan kepastian hukum — menjadikan Indonesia destinasi utama bagi investasi manufaktur, energi, dan teknologi.
1. Omnibus Law & Kemudahan Perizinan Digital via OSS RBA
Melalui Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) dan sistem Online Single Submission – Risk-Based Approach (OSS RBA), pemerintah menghadirkan model perizinan yang cepat, transparan, dan sepenuhnya digital.
Investor kini dapat memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin operasional dalam hitungan hari, dengan penilaian berbasis tingkat risiko usaha. Kebijakan ini mempersingkat birokrasi dan memberikan kepastian bagi perusahaan asing yang ingin segera memulai operasi di Indonesia.
2. Insentif Fiskal: Tax Holiday & Tax Allowance
Untuk sektor-sektor prioritas seperti energi terbarukan, kendaraan listrik, semikonduktor, dan farmasi, pemerintah menawarkan tax holiday hingga 20 tahun serta tax allowance berupa pengurangan penghasilan kena pajak hingga 60% dari total investasi. Insentif ini bertujuan menarik perusahaan global yang ingin menjadikan Indonesia sebagai basis manufaktur dan ekspor di Asia Tenggara.
3. Kepastian Hukum atas Kepemilikan Lahan Industri Asing
Kepastian hukum menjadi aspek kunci bagi investor asing. Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, investor asing dijamin mendapatkan perlakuan yang sama dengan investor domestik, termasuk perlindungan hukum terhadap hak kepemilikan dan kegiatan usaha.
Investor asing tidak dapat memiliki tanah berstatus hak milik secara langsung, namun memiliki opsi legal melalui mekanisme PT Penanaman Modal Asing (PT PMA) — badan hukum Indonesia yang memungkinkan kepemilikan lahan industri melalui:
- Hak Guna Bangunan (HGB) atau Hak Pakai untuk keperluan industri dan komersial.
- Jangka waktu hingga 80 tahun, termasuk perpanjangan.
- Perlindungan hukum penuh sesuai Pasal 6 dan 7 UU No. 25/2007 terhadap investor asing.
4. Insentif untuk Green & High-Tech Industries
Sejalan dengan arah kebijakan Net Zero Emission 2060, pemerintah memberikan prioritas tinggi bagi investasi di sektor energi hijau dan hi-tech. Melalui berbagai kebijakan seperti Green Investment Facility dan dukungan pembiayaan berstandar ESG, investor di bidang panel surya, baterai lithium, hydrogen hub, hingga digital industry berkelanjutan memperoleh kemudahan akses pendanaan dan fiskal.
Kawasan seperti Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) di Batam telah menyesuaikan tata kelola dan infrastrukturnya untuk mendukung target tersebut — dari sistem pengelolaan limbah industri terintegrasi hingga sertifikasi Green Mark Infrastructure. Hal ini menjadikan TPIE salah satu lokasi unggulan untuk ekspansi industri berkelanjutan dan teknologi tinggi di Indonesia.
5. Kolaborasi Bilateral Indonesia–Tiongkok: Manufaktur & Logistik
Kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok terus meningkat, terutama di sektor manufaktur, energi, dan infrastruktur logistik. Melalui Belt and Road Initiative (BRI) dan berbagai proyek joint venture, investor Tiongkok kini memanfaatkan Batam, Medan, Jakarta, Surabaya, Morowali, dan Kendal sebagai pusat produksi strategis di Asia Tenggara. Dengan jarak hanya 20 km dari Singapura dan berada di jalur pelayaran internasional, Batam menempati posisi strategis dalam koridor ekonomi maritim regional. Tunas Prima Industrial Estate siap menjadi jembatan baru kolaborasi kedua negara — menghubungkan kekuatan teknologi Tiongkok dengan potensi pasar dan sumber daya Indonesia.
Menuju Ekosistem Investasi yang Lebih Transparan dan Berkelanjutan
Dengan reformasi regulasi, insentif fiskal, dan infrastruktur yang semakin kuat, Indonesia memasuki era investasi baru yang pro-bisnis dan berorientasi keberlanjutan. Sinergi antara kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan komitmen energi hijau menempatkan Indonesia bukan sekadar pasar potensial, melainkan mitra strategis bagi investor global di Asia Tenggara.

01 Des
Tren Renewable Energy Dorong Gelombang Investasi Baru di Indonesia
Transisi tahun 2025 menuju 2026 menjadi titik balik industri energi global. Dunia tengah bergerak cepat menuju masa depan rendah karbon, di mana energi terbarukan, teknologi baterai, dan kendaraan listrik menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi baru. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan kebijakan transisi energi yang semakin matang, kini muncul sebagai pemain kunci dalam peta energi hijau Asia — dan membuka peluang besar bagi investasi, terutama dari Tiongkok.
Transformasi Energi Global: Dari Krisis Iklim ke Revolusi Hijau
Tekanan krisis iklim, kebijakan net zero, dan inovasi teknologi mendorong perubahan arah pasar energi dunia. Laporan International Energy Agency (IEA) mencatat, lonjakan permintaan listrik dunia pada 2025 hampir sepenuhnya dipenuhi oleh energi rendah emisi, sehingga mencegah tambahan sekitar 2,6 miliar ton CO₂ per tahun. Perusahaan yang mampu beradaptasi dengan energi bersih, digitalisasi, dan regulasi hijau kini berada di garis depan kompetisi industri global.
Potensi Indonesia Menuju Ekonomi Hijau Bernilai Rp 8.824 Triliun
Indonesia memiliki visi besar menuju Net Zero Emission 2060, dengan strategi nasional yang tercantum dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN 2024). Dari total proyeksi 444 GW kapasitas pembangkit pada 2060, sebesar 73,6% atau 326 GW ditargetkan berasal dari energi baru dan terbarukan (EBT). Potensi ini ditopang oleh kekayaan sumber daya:
- Matahari: potensi PLTS hingga 266 GW
- Angin: potensi PLTB hingga 73,5 GW
- Penyimpanan energi & baterai: 58 GW kapasitas energi cadangan
- Geotermal: terbesar kedua di dunia
- Bioetanol & hidrogen hijau: mendukung sektor industri dan transportasi
Dengan nilai ekonomi yang diproyeksikan mencapai Rp8.824 triliun pada 2060, Indonesia menjadi ladang investasi strategis untuk sektor energi bersih dan manufaktur berkelanjutan.
Dukungan Pemerintah Lewat Regulasi Ramah Investasi
Pemerintah memperkuat komitmen EBT melalui berbagai kebijakan strategis. Langkah-langkah ini menegaskan arah Indonesia sebagai pusat manufaktur hijau Asia Tenggara:
- Feed-in Tariff untuk memastikan harga listrik terbarukan tetap kompetitif.
- Skema Power Wheeling yang memungkinkan penjualan listrik hijau antar pihak.
- Insentif fiskal & tax holiday bagi manufaktur energi terbarukan dan EV
- Subsidi EV, pembebasan pajak, serta dukungan pembangunan pabrik baterai, charging station, hingga industri daur ulang baterai.
- Dukungan perizinan cepat melalui sistem OSS RBA
Batam Sebagai Hub Strategis Industri Hijau Indonesia
Dalam konteks regional, Batam menempati posisi strategis di jalur perdagangan global, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia, sebagai gerbang pasar ASEAN. Kota industri terdepan Indonesia ini tengah berkembang menjadi green industrial hub dengan dukungan infrastruktur handal dan kebijakan fiskal kompetitif.
Sebagai salah satu kawasan industri unggulan di Batam, Tunas Prima Industrial Estate (TPIE) hadir sebagai mitra pilihan bagi investor yang ingin berekspansi ke bisnis renewable energy dan green manufacturing.
Keunggulan Tunas Prima Industrial Estate
- Infrastruktur handal bersertifikasi Greenmark
- Sistem pengelolaan air & limbah industri terintegrasi berbasis ESG
- Akses dekat dan mudah ke bandara internasional, ferry terminal rute Batam-Singapore-Malaysia, dan pelabuhan barang/kargo
- Ketersediaan lahan industri dilengkapi fasilitas dan utilitas modern
Peluang Kolaborasi Indonesia–Tiongkok: Industri Energi Hijau Terintegrasi
Sebagai pemimpin global dalam teknologi baterai dan kendaraan listrik, Tiongkok memiliki peluang strategis untuk memperluas jaringan produksinya di Indonesia—pasar dengan potensi energi terbarukan yang besar dan komitmen kuat terhadap transisi hijau. Melalui kolaborasi investasi dan transfer teknologi, kedua negara dapat membangun rantai pasok regional yang terintegrasi, mencakup produksi baterai lithium, manufaktur EV, hingga sistem penyimpanan energi pintar.
Di tengah arus transisi energi nasional, Tunas Prima Industrial Estate menawarkan pintu masuk ideal bagi investor Tiongkok untuk menjangkau pasar ASEAN lewat pengembangan industri rendah karbon berbasis ESG, menggabungkan keberlanjutan dengan profitabilitas.

29 Nov
Kunjungan Peserta TKMPN 2025 ke Kawasan Industri Tunas Prima
Batam, 28 November 2025 – Kawasan Industri Tunas Prima hari ini menerima kunjungan resmi peserta Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) XXIX 2025, sebuah rangkaian dari ajang tahunan nasional yang menjadi wadah bagi perusahaan dan organisasi di Indonesia dalam memamerkan inovasi, peningkatan mutu, dan produktivitas.
TKMPN, yang telah berlangsung sejak 24–28 November 2025 di Batam, kembali mempercayakan kota ini sebagai tuan rumah untuk keempat kalinya. Tahun ini, acara hadir dengan tema “Membangun Daya Saing Bangsa Melalui Inovasi yang Produktif dan Berkelanjutan.” Peserta berasal dari berbagai sektor—mulai dari perusahaan multinasional, BUMN, swasta, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, layanan kesehatan, hingga organisasi nirlaba.
Sebagai bagian dari rangkaian kunjungan industri, Kawasan Industri Tunas Prima dipilih sebagai salah satu destinasi strategis bagi peserta TKMPN untuk melihat langsung perkembangan ekosistem industri Kota Batam dan potensi kawasan ini dalam mendukung agenda nasional peningkatan produktivitas. Serta inovasi dalam penerapan konsep sustainability dalam pengembangan kawasan industri. Total 28 peserta menghadiri sesi diskusi dan presentasi on-site.
Inovasi & Tata Kelola Kawasan Industri Tunas Prima
Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD), Chrispin Andereas, Head of Business Development Tunas Industrial, memaparkan berbagai inisiatif strategis kawasan serta menjawab sejumlah pertanyaan terkait operasional, sustainability, dan kesiapan Tunas Prima menghadapi tantangan industri masa depan.
1. Pengelolaan Sampah
Peserta menyoroti isu pengelolaan sampah di Batam, mengingat produksi sampah kota telah mencapai 1.300 ton per hari (DLH Batam, 2023), sementara kapasitas TPA diproyeksikan hanya cukup hingga 2030. Untuk menjawab tantangan tersebut:
- Tunas Prima menjadi kawasan industri di Batam yang menginisiasi Industrial Waste Management terpusat.
- Program ini dibangun atas empat pilar: Inovasi teknologi, pemilahan dari sumbernya, sistem terpusat, dan konversi sampah menjadi nilai tambah.
- Pengelolaan limbah mengikuti pendekatan organik–anorganik–ekonomis, dimana 50% limbah didaur ulang dengan Materials Recovery Facility (MRF).
Inisiatif ini sejalan dengan grand design Pemerintah Kota Batam dalam pengelolaan sampah yang lebih ketat, modern, dan berkelanjutan.
2. Manajemen Air
Untuk menjaga keberlanjutan pasokan air:
- Tunas Prima bekerja sama dengan SPAM Batam sebagai penyedia utama air bersih.
- Penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle dilakukan melalui:
- Penggunaan sanitary berstandar WELS 3 ticks
- Pembangunan Rainwater Harvesting Pond sebagai sumber air alternatif
- Pengelolaan air limbah melalui Wastewater Treatment Plant (WWTP) sebelum dilepas kembali ke lingkungan
3. Implementasi ISO
Tunas Prima saat ini berada dalam tahap audit implementasi ISO 9001 sebagai komitmen peningkatan mutu operasional kawasan.
4. Mobilitas & Transportasi Internal
Tunas Prima dirancang sebagai kawasan ramah pejalan kaki dengan jalur aman dan nyaman dalam radius 1 km dari main entrance menuju kantor atau warehouse di dalam kawasan. Ke depannya, pick-up point untuk taksi dan ojek online akan tersedia di halte depan kawasan. Pembatasan kendaraan diterapkan untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
5. Inovasi & Green Infrastructure
Tunas Prima menjadi kawasan industri hijau pertama di Batam yang memperoleh Green Mark Provisional Certificate from BCA International, yang mendukung visi kawasan industri bebas karbon melalui:
- IoT-based Command Center untuk monitoring lingkungan
- Interconnected walkway & fasilitas sepeda
- Penggunaan tanaman drought-resistant
- Efisiensi energi dan pemanfaatan sumber daya
- Desain lanskap ramah lingkungan dan area ekspansi masa depan
Selain itu, keunggulan strategis Batam di Golden Triangle Singapura–Malaysia memperkuat posisi Tunas Prima sebagai hub industri global dan destinasi unggulan untuk supply chain modern.
Penutup
Kunjungan peserta TKMPN 2025 ini menegaskan peran Kawasan Industri Tunas Prima sebagai salah satu kawasan industri yang progresif, adaptif, dan berkomitmen pada inovasi berkelanjutan. Melalui tata kelola modern dan infrastruktur hijau, Tunas Prima terus mendukung agenda nasional peningkatan kualitas dan produktivitas untuk mendorong daya saing Indonesia.

09 Okt
Penerapan Geocell di Kawasan Industri Tunas Prima
Geocell: Solusi Cerdas Eco Friendly untuk Kawasan Industri Tunas Prima
Batam, 9 Oktober 2025 — Seiring pesatnya pertumbuhan sektor industri, kebutuhan akan infrastruktur yang kuat, efisien, dan berkelanjutan menjadi semakin penting. Kawasan industri modern harus mampu menahan aktivitas logistik berat sekaligus mendukung tujuan keberlanjutan jangka panjang.
Di Tunas Prima Industrial Estate, salah satu kawasan industri unggulan di Batam, inovasi dimulai dari fondasi. Untuk memastikan kekuatan dan ketahanan infrastruktur, kami menerapkan teknologi perkuatan tanah Geocell — solusi rekayasa modern yang memadukan efisiensi, daya tahan, dan kepedulian lingkungan.

Apa Itu Geocell?
Geocell adalah sistem perkuatan tanah berbentuk tiga dimensi yang terbuat dari high-density polyethylene (HDPE). Secara visual, strukturnya menyerupai sarang lebah. Ketika dikembangkan dan diisi dengan tanah, kerikil, atau material agregat lainnya, Geocell membentuk lapisan dasar yang stabil dan mampu mendistribusikan beban secara merata, memperkuat tanah lunak, serta mencegah erosi dan kerusakan permukaan.
Awalnya dikembangkan untuk kebutuhan militer dan proyek teknik sipil, kini Geocell telah banyak digunakan dalam proyek infrastruktur di seluruh dunia. Keunggulannya terletak pada pemasangan yang cepat, efisiensi biaya, dan kemampuannya menghadapi kondisi tanah yang menantang.
Mengapa Geocell Penting bagi Kawasan Industri
Kawasan industri seperti Tunas Prima, yang melayani sektor manufaktur berat, logistik, dan pergudangan, membutuhkan infrastruktur yang dapat menahan beban besar secara berkelanjutan. Metode konvensional seperti pondasi beton dalam sering kali mahal dan kurang ramah lingkungan.
Geocell menawarkan alternatif yang lebih cerdas dan berkelanjutan dengan berbagai penerapan di Tunas Prima, antara lain:
-
Jalan logistik berat, mampu menahan beban kendaraan kontainer dan alat angkut industri.
-
Area pergudangan, untuk mengurangi penurunan tanah dan menjaga kestabilan lantai.
-
Sistem drainase dan lereng, guna mencegah erosi dan menjaga aliran air alami.
-
Zona lanskap alami dan area resapan air, untuk memperkuat kontur tanah tanpa merusak ekosistem.

Keunggulan Utama Geocell di Tunas Prima
Ramah Lingkungan
Geocell mengurangi penggunaan beton dan aspal, serta meminimalkan penggalian tanah dalam. Struktur permeabelnya memungkinkan air hujan terserap ke dalam tanah, membantu menjaga keseimbangan air tanah terutama di sekitar area kolam penampungan hujan kami.
Efisien Biaya dan Waktu
Dengan memanfaatkan material lokal dan kedalaman galian yang lebih dangkal, biaya material dan tenaga kerja dapat ditekan. Waktu konstruksi juga menjadi lebih singkat — hal penting bagi kawasan industri yang beroperasi dengan tenggat ketat.
Kuat Menahan Beban Berat
Struktur Geocell dirancang untuk mendistribusikan beban secara merata, mencegah deformasi dan kerusakan jalan bahkan di bawah tekanan berat kendaraan kontainer dan mesin industri.
Tahan Lama dan Minim Perawatan
Kestabilan permukaan yang dihasilkan Geocell membuat jalan dan platform lebih awet, mengurangi risiko kerusakan, serta menekan biaya perawatan jangka panjang.

Integrasi Geocell dalam Masterplan Tunas Prima
Sebagai bagian dari strategi pengembangan berkelanjutan, Tunas Prima mengintegrasikan Geocell di berbagai infrastruktur utama:
-
Zona resapan air dan kolam penampungan, untuk memperkuat struktur tanah sekaligus meningkatkan penyerapan air.
-
Jaringan jalan dan area pengembangan baru, guna menciptakan pondasi yang lebih tangguh dan siap ekspansi.
Penerapan Geocell mencerminkan komitmen kami terhadap infrastruktur yang tangguh, efisien, dan ramah lingkungan—membangun kawasan industri yang berdaya saing tinggi sekaligus berkelanjutan. Bagi Tunas Prima Industrial Estate, inovasi bukan sekadar adopsi teknologi baru, tetapi juga tentang mengambil keputusan yang bertanggung jawab bagi industri dan lingkungan. Penggunaan Geocell mendukung komitmen kami untuk menghadirkan pertumbuhan industri yang cerdas dan berkelanjutan.

18 Nov
Partisipasi Tunas Industrial dalam Innovation Day Jakarta 2024 by Schneider Electric
Jakarta, 7 November 2024 – Tunas Industrial Estate (PT Tritunas Bangun Perkasa) turut berpartisipasi dalam acara “Innovation Day Jakarta 2024: Driving Sustainable Growth through Innovative Building and Industrial Solutions” yang diselenggarakan oleh Schneider Electric di Hotel Mulia, Jakarta. Keikutsertaan ini menunjukkan komitmen Tunas Industrial Estate sebagai kawasan industri yang mendukung pengelolaan energi hijau secara efisien. Selaras dengan upaya kawasan industri ini untuk mengurangi emisi karbon.
Komitmen Nyata pada Sustainability dan Industri Hijau
Schneider Electric menyoroti tantangan sektor industri dan bangunan yang menyumbang 70% emisi CO2 global dalam acara tahunan ini. Meski 98% pemimpin bisnis di Indonesia menetapkan target keberlanjutan, hanya 51% yang memiliki rencana aksi konkret. Melalui solusi digitalisasi, elektrifikasi, dan otomasi, Schneider Electric mendukung bisnis-bisnis di Indonesia dalam mencapai keberlanjutan industri.

Sebagai bagian dari inisiatif Impact Makers, Schneider Electric menandatangani MoU strategis dengan Tunas Industrial Estate dan INKINDO untuk pengembangan kompetensi kelistrikan dan efisiensi energi, serta bekerja sama dengan PT Starvo Global Energi dan PT Haleyora Power untuk membangun ekosistem kendaraan listrik. Khususnya penyediaan Layanan EV Charging dan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Informasi lengkap seputar Tunas Industrial, hubungi contact person:
Muhammad Andika (Marketing Communication)
Phone Number: 0819-3365-4898
Email: [email protected]